Merindukan Ibu

ssa40225

Aku benar-benar merindukan ibundaku hari ini,

semoga ia dalam keadaan baik-baik saja

semoga Allah menjaganya..

Ibu..

Kalau kau membaca tulisanku…

ini adalah pengganti ciumanku untukmu

ku ayunkan kuas… pengisi kekosongan hatiku.. saat jauh darimu

… Lekas sembuh ya… aku menyayangimu …

ORANG BERMENTAL PEMENANGLAH YANG BISA

Saya tersenyum melihat setumpuk kartu joker yang tanpa sengaja saya temukan didalam travel bag, lengkap dengan bungkusnya.. amplop coklat bekas bungkus gaji saya ketika masih bekerja di almamater saya. Kartu joker itu menyimpan banyak kenangan. Pertama, permainan kartu disebuah penginapan di kawasan Tawangmang, Karanganyar Jawa Tengah. saat membawa mahasiswa yang sedang mengikuti praktikum. Malam hari, ketika dingin mulai menyelinap, kartu itu yang membawa kehangatan tersendiri. Tak ada sekat antara dosen, mahasiswa, dan juga co-Ass. Dosen yang paling diseganipun menjadi lawan main cangkulan (permainan kartu joker dimana pemain yang kartunya paling cepat habis dialah yang menang) yang paling menyenangkan, walau sering harus mengocok kartu, dan pipi penuh dengan bedak putih yang dioleskan oleh teman-teman yang kartunya telah habis dimainkan, tak sedikitpun perasaan kecewa, apalagi marah.

Kenangan demi kenangan itu mengalir begitu saja, seiring kemanapun saya membawa kartu itu, Liburan akhir tahun di Kaliurang, sampai terakhir praktikum terakhir saya di Boyolali. Semua terasa baru kemarin terjadi.

Saya memang bukan penjudi, permainan kartu itu semata-mata hanya untuk mengisi waktu kosong, bila saya sedang sendiri, saya hanya akan menyusun kartu-kartu itu menjadi satu bentuk bangunan yang ada dalam imajinasi saya, tetapi itu terjadi lebih dari dua tahun yang lalu, saya tidak menyangka kalau kartu itu tanpa sengaja terbawa sampai tanah rantau ini. Ini sungguh sebuah kebetulan. Ketika masih di Jogja, saya tak sekalipu berani menyentuh kartu apalagi memainkan kartu dihadapan ayah. Operasi kamar juga sering dilakukan oleh ayah atau ibu, saya pikir, satu-satunya tempat aman untuk menyimpan kartu itu hanyalah travel bag yang ada diatas lemari pakaian, benda yang selalu luput dari operasi kamar.

Berbicara tentang permainan kartu, saya teringat syair lagu milik ABBA;

THE WINNER TAKE IT ALL

…………………………..

I’ve played all my cards
And that’s what you’ve done too
Nothing more to say
No more ace to play

The winner takes it all
The loser standing small
Beside the victory
That’s her destiny

……………………

Ketika saya bermain kartu bersama teman-teman saya, saya memainkan kartu yang saya punya, kalau bisa semua kartu saya mainkan dan saya akan menjadi pemenang, teman-teman juga akan melakukan hal yang sama. Mereka tak akan pernah rela bila harus mendapat giliran mengocok kartu, apalagi mencapat colekan di pipi, apalagi menjadi bahan tertawaan sebelum tidur, lucu juga menyedihkan.

Seperti itulah kehidupan, manusia ibarat pemain kartu, mereka yang bermental pemenang dan mempunyai strategi untuk menanglah yang nantinya akan memenangkan permainan kehidupan. Setumpuk kartu ditengah arena kehidupan adalah kesempatan-kesempatan yang dapat menghampiri siapa saja. Tinggal kita berfikir , bagaimana kesempatan itu dapat berguna bagi kehidupan kita.

Kehidupan adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi, Tuhan telah menggariskan kekuatan fisik dan pikiran serta kesempatan Kita tak akan mampu merayu Tuhan untuk memberikan apa yang kita inginkan, tapi kita harus mengusahakan apa yang kita inginkan dengan kekuatan pikiran dan fisik kita menjadikan kesempatan sebagai gerbang menuju apa yang kita inginkan.

Sekali terjun ke arena permainan, kita harus menyelesaikannya sampai tuntas, sampai tak ada lagi kata untuk diucapkan, dan sampai seluruh kartu kehidupan telah dimainkan, sampai waktu yang disediakan Tuhan untuk kita berada dibumi ini habis. Ingat, waktu yang tersedia berbatas, jadi ubah mental kita menjadi pemenang, hanya orang yang bermental pemenanglah yang bisa. [ESBEA]

Jangan Mencela Sebelum Mencoba

Apakah arti profesi bagi anda? Apakah anda berada di posisi yang rendah dan menganggap itu tidak berguna dan merupakan profesi yang hina dan tidak bergengsi dan membuat? Atau justru sebaliknya, anda berada di posisi yang tinggi dan anda pantas berbangga diri dengan semua itu dan profesi yang ada dibawah anda adalah profesi yang tidak ada artinya?

Ada sebuah pepatah Amerika mengatakan ”jangan pernah mencela seseorang sebelum kau berjalan sejauh 1 mil dengan sepatu mereka” mengandung makna yang dalam dan berkaitan dengan alenia diatas. Dalam hal ini, saya tidak akan menyamaratakan semua profesi, karena saya tahu, masing-masing profesi mempunyai peran sendiri dalam kehidupan ini, entah besar entah kecil orang yang menekuni sebuah profesi apapun itu tetap mempunyai kontribusi dalam kehidupan ini, mulai dari tukang cuci, tukang sampah, pemulung, terlebih lagi direktur atau presiden.

Agak janggal dan mengganjal perasaan ketika suatu pagi saya menjumpai seorang pengusaha sedang memarahi petugas cleaning service di kantornya dengan mengatakan ”apa kerjamu, jam segini belum beres semua ruangan !” Padahal sedari pagi petugas tersebut telah datang, membereskan semuanya yang ada, memang apes sedang hinggap di diri petugas tersebut. Untuk sebuah urusan mendadak, sang pengusaha datang lebih awal dari biasanya dan menjumpai petugas cleaning service belum menyelesaikan pekerjaannya.

Jika dinalar dengan pikiran sehat dan tanpa embel-embel emosi, sebenarnya hal tersebut wajar, sang pengusaha datang lebih pagi dari biasanya, tentu saja akan menjumpai pemandangan yang berbeda dari kebiasaannya dimana petugas cleaning service belum menyelesaikan pekerjaannya. Justru yang tidak wajar adalah sang pengusaha sendiri, tidak memandang situasi langsung marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya hanya karena apa yang ia lihat tidak sesuai dengan keinginannya dan didorong oleh emosi dan anggapan bahwa dirinya adalah orang yang bisa memerintah apa saja dan mengatakan apa saja pada orang yang dianggap lebih rendah.

Berdasarkan ilustrasi diatas, mari kita coba pikirkan, bagaimana bila situasi kita balik? Kita mencoba berada ada posisi orang lain yang sering termarjinalkan hanya karena profesi mereka tidak tergolong dalam profesi-profesi elit menurut pandangan banyak orang. Kita kenakan sepatu seperti yang dikiaskan dalam pepatah Amerika pada bagian awal dari artikel ini, kita kenakan atribut-atribut yang sering disandang oleh orang tersebut, baik berupa fisik maupun julukan-julukan yang bernada meremehkan dan merendahkan, kemudian perhatikan, sejauh mana kita menjalani posisi orang lain itu dan ukurlah sendiri sampai dimana batas kesanggupan yang kita miliki.

Belakangan ini saya baru saja mencoba berada di posisi seorang sahabat saya yang sering menemani saya ngobrol dikala senggang atau dikala saya sedang merindukan keluarga saya di Jogja. Sahabat saya itu menjalani profesi yang bagi sebagian orang remeh, ya remeh sekali, karena hampir semua orang yang pernah saya lihat berhubungan dengan orang tersebut menggunakan nada yang bagi saya kasar Dialah si pengangkut sampah sekaligus menyapu dan sesekali merapikan pagar tanaman. Pada suatu sore saya sengaja berjalan mendekatinya ketika ia tengah memangkas tanaman pagar agar nampak rapi.

Sekilas dalam pandangan mata saya, pekerjaan memotong dan merapikan tanaman adalah pekerjaan yang sangat mudah, sekedar membuka dan menutup gunting dan diarahkan pada pucuk-pucuk tanaman yang tidak beraturan dan akhirnya terpotong dan tanaman nampak rapi. Saya sangat berminat untuk mencobanya, saya merayu dan mencoba memangkas tanaman, tapi tahukah anda, ternyata itu sangat sulit, setidaknya saya tidak mampu melakukannya dengan rapi, dengan depat dan ternyata kuncinya adalah pada hentakan dan arah guntingan, ini yang tidak saya kuasai.

Sebuah pelajaran berharga waktu itu saya peroleh, ternyata untuk sebuah pekerjaan sepele yang selama ini saya anggap mudah dan enteng hanya karena sedikit kesombongan saya yang menganggap diri saya lebih berpendidikan ternyata tidak dapat saya lakukan dengan baik. Ilmu yang saya peroleh dari pendidikan yang saya jalani dan penguasaan saya untuk bidang tertentu yang saya tekuni, ternyata tidak berlaku untuk pekerjaan memotong dan merapikan tanaman di taman.

Tuhan maha adil, menciptakan manusia yang beraneka ragam dengan kepintaran dan keahlian masing-masing untuk berkontribusi sewajarnya bagi kehidupan ini, tidak perlu mencela. Apabila dibenak muncul hasrat untuk mencela, berarti secara tidak langsung kita mencela Tuhan kita. Berhubung Tuhan menciptakan manusia untuk berkontribusi sewajarnya dalam berbagai sendi kehidupan, berarti kita juga harus bertindak sewajarnya, mengapresiasi apapun profesi orang secara positif. Tanamkan dalam diri bahwa jangan pernah mencela apa yang telah digariskan Tuhan yang berupa profesi orang sebelum mencobanya, karena belum tentu kita mampu menjalani diluar profesi yang kita jalani sekarang. [SBA]

akhirnya nongol juga

akhirnya… setelah sekian lama menulis.. salah tulisanku nampang di selain blog tapi juga di web Anda Luar Biasa. o ya.. buat pengunjung blog ini.. kalau pengen bisa juga menulis di anda luar biasa, silahkan kunjungi www.andaluarbiasa.com

Dan jagungkun mengajarkan tentang hidup

Kantor tempat saya bekerja saat ini mempunyai lahan yang cukup luas untuk membudidayakan berbagai jenis tanaman. Dari lahan yang ada, pegawai lapangan menyebut lahan basah untuk lahan yang mendapat pengairan sepanjang tahun dan lahan kering untuk lahan yang tidak mendapatkan pengairan teknis. Lahan basah ditanami padi sepanjang tahun dan lahan kering ditanami tanaman jagung sepanjang tahun.

Suatu hari ditengah musim penghujan dan bertepatan dengan awal musim tanam jagung, sorang petugas lapangan datang kepada saya sambil menunjukkan beberapa butir jagung yang ia tanam beberapa hari sebelumnya yang mulai membusuk dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjadi tanaman baru.

“Ai…. Sia-sia saja bungkuk seharian, jagungnya banyak yang ndak tumbuh,” begitu keluhnya pada saya kala itu. Petugas lapangan lain yang kebetulan berada tak jauh dari kami berdua juga turut urun bicara, “Jelas saja, lha wong banyak hujan, tanahnya tergenang, bagaimana jagungnya mau tumbuh, busuk iya!”

Saya sebenarnya kasihan dengan petugas lapangan itu, jelas saya ndak bisa berbuat banyak untuk menumbuhkan jagung-jagung itu

“Ya sudah.. siapkan saja benih baru, nanti disulam, jangan lupa buat alur biar airnya tidak menggenang di lahan.” Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut saya.

Secara mendasar, memang jagung sulit tumbuh dengan baik di musim penghujan, karena kebutuhan manusia yang tak bisa terhenti-lah yang mengharuskan jagung ada dan tersedia sepanjang tahun, tentu manusia harus berfikir untuk mengatasinya.

Air memang perlu, untuk segala kehidupan di bumi ini, tak terkecuali jagung-jagung itu. Tetapi tahukah, bahwa jagung-jagung itu sama sekali tidak mau tumbuh ketika tempat dia diletakkan tergenang air? Ada apa gerangan?

Jagung juga makluk seperti kita,meski tak dapat bicara, meski tak dapat merasa, tapi ia juga dikodratkan Tuhan untuk tumbuh dengan tantangan-tantangan agar ia menjadi kokoh dan berguna. Tantangan paling sesuai untuk butir jagung adalah keterbatasan air. Dengan air yang terbatas, jagung akan menumbuhhkan akar-akarnya untuk mencari air jauh kedalam tanah, ini alamiah, perimbangan pertumbuhan akarnya itu kemudian ia memunculkan daunnya, memanfaatkan hasil hasil kerja keras akar menembus tanah untuk menghadrkan pemandangan hijau diatas tanah kemudian ketika pertumbuhannya maksimal, ia akan menghadirkan bunga dan disusul buah untuk melengkapi kodratnya sebagai makhluk tuhan untuk berbuah dan berkembang biak dan menggenapi tugasnya untuk menghadirkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk kehidupan dibumi.

Kita juga seperti jagung-jagung itu, ketika hidup kita berlimpah, terkadang kita lupa untuk tumbuh, atau malah malas untuk tumbuh dan akhirnya kehilangan makna hidup. Saat kita ditempa keterbatasan-keterbatasan kecil, tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah misalnya, padahal ingin sekali melanjutkan sekolah seperti teman-teman yang lain, dan mendapatkan pekerjaan serta mempunyai kehidupan yang lebih baik di masa depan, tentu kita akan berusaha keras bagaimana mendapatkan biaya sekolah. Bekerja paruh waktu untuk sekolah, menjadi pengajar di bimbingan les pada malam hari dan sebagainya. Dari tantangan terberat untuk tetap bisa melanjutkan sekolah itu, secara langsung akan berdampak pada keberlangsungan pendidikan, inilah pertumbuhan pertama akibat dari sebuah tantangan, pertumbuhan pertama ini di kemudian hari akan berdampak pada pertumbuhan berikutnya, yang pastinya lebih baik, pekerjaan yang layak, penghidupan yang mapan serta serangkaian dampak lainnya yang dapat kita arahkan sesuai keinginan kita.Analogi kehidupan yang pantas kita renungkan bukan?? Alam selalu mengajarkan kita untuk lebih arif memandang hidup ini, demikian pula dengan butir-butir jagung itu. [SBA]

KONTEMPLASI RESOLUSI DAN AKSI

Kontemplasi, resolusi dan aksi, tiga istilah yang akrab di telinga, terlebih menjelang akhir tahun dan diawal tahun berikutnya. Banyak orang memproklamasikan dirinya akan berkontemplasi, melakukan resolusi dan berbuat yang lebih baik untuk masa berikutnya. Lalu, apakah kontemplasi adalah sebagai perwujudan dari menyesalkan hari kemarin, dan resolusi dilakukan karena mencemaskan hari esok.. Ups.. tunggu dulu!!

Kontemplasi (contemplation) lebih merupakan perenungan tentang kebaikan, keberhasilan, kegagalan bahkan kesalahan yang pernah kita lakukan, seberapa besar keberhasilan, seberapa besar kesalahan dan seberapa parah kegagalan, dari situ akan terlihat potret seperti apa diri kita beberapa waktu kebelakang.

Orang tentu tidak bisa berhenti sampai tahap kontemplasi semata, apabila seseorang hanya berhenti pada tahap ini, yang mempunyai keberhasilan dan kebaikan lebih banyak dibanding kegagalan dan kesalahannya akan menjadi orang yang terlalu berpuas diri sedangkan bagi mereka yang justru sebaliknya tentu pikirannya hanya akan dijejali dengan penyesalan, penyesalan dan penyesalan. Inilah pentingnya resolusi, sebuah ketetapan hati untuk pemecahan masalah, ketetapan hati untuk menjadikan kegagalan sebagai pengalaman berharga dan pemicu meraih keberhasilan di kemudian hari dan menjadi dasar untuk bertindak/beraksi. Akhirnya aksi yang dilakukan adalah yang terbaik dari sekian alternative tindakan yang ada dan memungkinkan kita untuk memastikan bahwa kita bukanlah man who suffer from a lack of resolution (orang yang menderita karena tidak tegas)

Wadhuh.. kenapa saya menjadi orang yang berteori ya? Sebenarnya uraian diatas baru muncul dikepala saya beberapa saat lalu. Waktu saya membuka email hari ini saya dapati pesan Edy zaqeus dan mengarahkan saya mengunjungi situs anda luar biasa. Saat layar perlahan muncul, yang menarik di mata saya adalah Inspirasi Dunia.

”anda tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan rasa takut atau apa yang mungkin terjadi di masa depan. Kita tidak akan bangkit dengan cara itu”

Michelle Obama

Ungkapan yang tepat disaat yang tepat, kita tidak bisa mengambil keputusan penting untuk hidup kita sendiri karena alasan rasa takut, juga tidak bisa mengambil keputusan yang kurang tepat karena kecemasan berlebihan terhadap kemungkinan kemungkinan yang akan kita hadapi di masa mendatang, karena sesungguhnya kecemasan yang berlebihan terhadap apa yang akan terjadi esok adalah rekayasa pikiran yang cenderung berorientasi negatif dan perlahan akan menggerogoti semangat kita untuk melakukan yang terbaik dan akhirnya bukan kebangkitan yang kita peroleh tetapi justru keterpurukan.

Kembali ke kata kontemplasi, resolusi dan aksi serta ungkapan bijak Michelle Obama sedikit banyak terjadi dalam diri saya sebulan belakangan ini. Sebenarnya semenjak pertengahan 2008 saya sudah merasakan ada perubahan dalam diri saya, saya mulai jarang menulis, menghabiskan waktu hanya untuk berjalan-jalan dan sesuatu yang tidak berguna, saya mengambil keputusan bodoh yang sempat membuat jiwa saya labil, dan saya mau tidak mau menerima akibatnya, tak satupun tulisan bermutu saya hasilkan, prestasi kerja saya dikantor kurang begitu memuaskan dan sebuah teguran keras dari seorang sahabat yang secara tiba-tiba datang ”Woy.. mengapa kau jadi mundur, mengapa kembali kau masuk ke area abu-abu, mana ketegasanmu, butakah dikau, dasar manusia ndak jelas?” Dasar manusia ndak jelas, kalimat yang kasar, pedas di telinga, tetapi membuat saya bangun dari tidur panjang saya dan saya menyadari bahwa I did fruitless things and wasted my time.

Berbekal kesadaran bahwa lebih banyak hal sia-sia yang saya lakuan dan waktu yang terbuang percuma akhirnya dua minggu menjelang tutup tahun saya putuskan untuk berpuasa hingga hari terak, bukan untuk tujuan ibadah semata, juga bukan untuk sebuah ritual tertentu, tetapi lebih untuk memaksa diri saya agar kembali ke kebiasaan awal saya yang baik, saya mau tak mau harus bangun pagi untuk makan sahur, dikala siang lapar dan emosi saya memuncak, saya akan teringat bahwa saya sedang berpuasa dan saya mestinya menjadi lebih sabar, dan dengan puasa pula saya sepanjang waktu mengingat perjuangan ayah dan ibu saya yang harus membesarkan anak-anaknya, bekerja tanpa kenal waktu, hidup prihatin hanya demi saya dan saudara-saudara saya. Hal penting yang saya lupakan.. ya.. perjuangan ayah ibu. Puncak dari kontemplasi saya adalah ”kembali” ke ayah, ibu, dan disertai sikap berserah diri pada Tuhan tentunya.

Ketika tahun berganti dan kontemplasi menurut saya telah mencapai puncaknya, ternyata saya belum bisa melakukan resolusi secara serta merta, saya masih harus menemukan jalan terbaik, hingga suatu saat tiba-tiba dikepala saya muncul ide untuk menggoreskan kuas. Maka pergilah saya membeli cat acrylic, kanvas dan kuas. Hemm.. hasil coretan saya tidak jelek-jelek amat saya rasa, dalam dua hari saya menghasilkan 7 gambar yang kemudian saya share di blog maupun facebook memenuhi tantangan teman-teman untuk berani menampilkannya kepada publik. Coretan saya mendapat tanggapan yang beragam dari orang-orang yang mengenal saya. Ternyata saya bisa, saya sanggup dan saya mampu berkarya, sebuah resolusipun akhirnya diambil, saya harus menulis, bekerja dengan penuh semangat seperti ketika saya menggambar dan e-mail dari Edy adalah yang menjadi cambuk saya untuk berkarya saat ini hingga saya berani memastikan saya tidak merisaukan kesalahan saya di masa lalu, dan saya tidak takut tentang apa yang akan terjadi esok, karena esok bukan untuk disesalkan, tetapi esok akan dipenuhi dengan peluang dan kejadian-kejadian menakjubkan.

Kesadaran yang diperoleh ketika berkontemplasi, resolusi yang diambil serta aksi yang dilakukan untuk memperbaiki hidup tentu saja berbeda antara satu orang dengan lainnya, karena masing-masing orang mempunyai latar belakang yang berbeda, kondisi lingkungan yang berbeda dan cara pandang terhadap kehidupan yang berbeda pula. Semua berpulang kepada visi masing-masing orang. Cara berkontemplasi, berresolusi dan beraksi orang yang menginginkan kemapanan finansal dengan menjadi pengusaha hebat tentu berbeda dengan cara yang ditempuh orang yang menginginkan menikmati hidup dengan kebersahajaan.

Kontemplasi, resolusi dan aksi juga tak semata-mata berlaku untuk individu, sebuah organisasi, institusi yang didalamnya berisi sekumpulan individu juga senantiasa berkontemplasi, berresolusi dan beraksi untuk mencapai tujuannya. Bagi orang kantoran seperti saya tentu akrab dengan istilah evaluasi akhir tahun dan penyusunan rencana kegiatan tahunan di awal tahun, visi institusi dan misi institusi. Evaluasi akhir tahun merupakan cara sebuah organisasi untuk berkontemplasi, mendokumentasikan keberhasilan yang diperoleh, mendata kegagalan yang dialami dan penyebabnya. Sedangkan Penyusunan rencana tahunan merupakan aksi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan, sementara resolusi yang di ambil tercermin dari misi organisasi/institusi tersebut.

Mengingat sebuah organisasi atau institusi terdiri dari individu-individu dengan beragam orientasi dan cara berfikir, tak jarang sebuah institusi mengalami kemandegan ketika berkontemplasi dan merumuskan aksi yang akan dilakukan kemudian. Individu-individu dalam organisasi maupun institusi seringkali terjebak dalam debat kusir yang tak berkesudahan. Biasanya penyebab terhambatnya penyusunan rencana kerja itu adalah individu-individu yang mempunyai pola pikir negatif dan terlalu pesimis terhadap keberhasilan yang mungkin diraih. Orang-orang dengan pola pikir seperti ini cenderung bersikap kritis dan mengemukakan argumen-argumennya yang seringkali tak lebih dari hayalan-hayalan tak berdasar dan biasanya akan mudah mempengaruhi jalan pikiran orang lain. Jika kondisi sudah seperti itu, cara terbaiknya adalah mengarahkan kembali fokus pemikiran orang-orang tersebut ke visi yang akan dicapai kemudian dilanjutkan dengan analisis sederhana terhadap peluang, tantangan, hambatan dan kekuatan yang dimiliki serta mendorong cara pandang yang proporsional terhadap keempat hal tersebut.

Akhirnya, baik secara individu maupun organisasi atau institusi, dalam berkontemplasi, berresolusi dan beraksi harus mengedepankan prinsip bahwa hari kemarin bukan untuk disesalkan dan apa yang akan terjadi kemudian bukan untuk dicemaskan, sehingga keputusan-keputusan penting yang diambil adalah keputusan yang tepat dan terfokus pada tujuan . [SBA]