Jangan Mencela Sebelum Mencoba

Apakah arti profesi bagi anda? Apakah anda berada di posisi yang rendah dan menganggap itu tidak berguna dan merupakan profesi yang hina dan tidak bergengsi dan membuat? Atau justru sebaliknya, anda berada di posisi yang tinggi dan anda pantas berbangga diri dengan semua itu dan profesi yang ada dibawah anda adalah profesi yang tidak ada artinya?

Ada sebuah pepatah Amerika mengatakan ”jangan pernah mencela seseorang sebelum kau berjalan sejauh 1 mil dengan sepatu mereka” mengandung makna yang dalam dan berkaitan dengan alenia diatas. Dalam hal ini, saya tidak akan menyamaratakan semua profesi, karena saya tahu, masing-masing profesi mempunyai peran sendiri dalam kehidupan ini, entah besar entah kecil orang yang menekuni sebuah profesi apapun itu tetap mempunyai kontribusi dalam kehidupan ini, mulai dari tukang cuci, tukang sampah, pemulung, terlebih lagi direktur atau presiden.

Agak janggal dan mengganjal perasaan ketika suatu pagi saya menjumpai seorang pengusaha sedang memarahi petugas cleaning service di kantornya dengan mengatakan ”apa kerjamu, jam segini belum beres semua ruangan !” Padahal sedari pagi petugas tersebut telah datang, membereskan semuanya yang ada, memang apes sedang hinggap di diri petugas tersebut. Untuk sebuah urusan mendadak, sang pengusaha datang lebih awal dari biasanya dan menjumpai petugas cleaning service belum menyelesaikan pekerjaannya.

Jika dinalar dengan pikiran sehat dan tanpa embel-embel emosi, sebenarnya hal tersebut wajar, sang pengusaha datang lebih pagi dari biasanya, tentu saja akan menjumpai pemandangan yang berbeda dari kebiasaannya dimana petugas cleaning service belum menyelesaikan pekerjaannya. Justru yang tidak wajar adalah sang pengusaha sendiri, tidak memandang situasi langsung marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya hanya karena apa yang ia lihat tidak sesuai dengan keinginannya dan didorong oleh emosi dan anggapan bahwa dirinya adalah orang yang bisa memerintah apa saja dan mengatakan apa saja pada orang yang dianggap lebih rendah.

Berdasarkan ilustrasi diatas, mari kita coba pikirkan, bagaimana bila situasi kita balik? Kita mencoba berada ada posisi orang lain yang sering termarjinalkan hanya karena profesi mereka tidak tergolong dalam profesi-profesi elit menurut pandangan banyak orang. Kita kenakan sepatu seperti yang dikiaskan dalam pepatah Amerika pada bagian awal dari artikel ini, kita kenakan atribut-atribut yang sering disandang oleh orang tersebut, baik berupa fisik maupun julukan-julukan yang bernada meremehkan dan merendahkan, kemudian perhatikan, sejauh mana kita menjalani posisi orang lain itu dan ukurlah sendiri sampai dimana batas kesanggupan yang kita miliki.

Belakangan ini saya baru saja mencoba berada di posisi seorang sahabat saya yang sering menemani saya ngobrol dikala senggang atau dikala saya sedang merindukan keluarga saya di Jogja. Sahabat saya itu menjalani profesi yang bagi sebagian orang remeh, ya remeh sekali, karena hampir semua orang yang pernah saya lihat berhubungan dengan orang tersebut menggunakan nada yang bagi saya kasar Dialah si pengangkut sampah sekaligus menyapu dan sesekali merapikan pagar tanaman. Pada suatu sore saya sengaja berjalan mendekatinya ketika ia tengah memangkas tanaman pagar agar nampak rapi.

Sekilas dalam pandangan mata saya, pekerjaan memotong dan merapikan tanaman adalah pekerjaan yang sangat mudah, sekedar membuka dan menutup gunting dan diarahkan pada pucuk-pucuk tanaman yang tidak beraturan dan akhirnya terpotong dan tanaman nampak rapi. Saya sangat berminat untuk mencobanya, saya merayu dan mencoba memangkas tanaman, tapi tahukah anda, ternyata itu sangat sulit, setidaknya saya tidak mampu melakukannya dengan rapi, dengan depat dan ternyata kuncinya adalah pada hentakan dan arah guntingan, ini yang tidak saya kuasai.

Sebuah pelajaran berharga waktu itu saya peroleh, ternyata untuk sebuah pekerjaan sepele yang selama ini saya anggap mudah dan enteng hanya karena sedikit kesombongan saya yang menganggap diri saya lebih berpendidikan ternyata tidak dapat saya lakukan dengan baik. Ilmu yang saya peroleh dari pendidikan yang saya jalani dan penguasaan saya untuk bidang tertentu yang saya tekuni, ternyata tidak berlaku untuk pekerjaan memotong dan merapikan tanaman di taman.

Tuhan maha adil, menciptakan manusia yang beraneka ragam dengan kepintaran dan keahlian masing-masing untuk berkontribusi sewajarnya bagi kehidupan ini, tidak perlu mencela. Apabila dibenak muncul hasrat untuk mencela, berarti secara tidak langsung kita mencela Tuhan kita. Berhubung Tuhan menciptakan manusia untuk berkontribusi sewajarnya dalam berbagai sendi kehidupan, berarti kita juga harus bertindak sewajarnya, mengapresiasi apapun profesi orang secara positif. Tanamkan dalam diri bahwa jangan pernah mencela apa yang telah digariskan Tuhan yang berupa profesi orang sebelum mencobanya, karena belum tentu kita mampu menjalani diluar profesi yang kita jalani sekarang. [SBA]

3 Responses

  1. tidak ada orang kaya jika tidak ada orang miskin, tidak ada atasan jika tidak ada bawahan, manusia kadang suka sombong ( padahal apa sih modalnya….? )

  2. setuju Mr. Big Sugeng

  3. salam kenal mbak. tulisannya bagus bagus….
    minta izin link tulisannya di ;
    http://h4mm4d.wordpress.com ; http://primagamaamuntai.co.cc

Leave a Reply