Dan jagungkun mengajarkan tentang hidup

Kantor tempat saya bekerja saat ini mempunyai lahan yang cukup luas untuk membudidayakan berbagai jenis tanaman. Dari lahan yang ada, pegawai lapangan menyebut lahan basah untuk lahan yang mendapat pengairan sepanjang tahun dan lahan kering untuk lahan yang tidak mendapatkan pengairan teknis. Lahan basah ditanami padi sepanjang tahun dan lahan kering ditanami tanaman jagung sepanjang tahun.

Suatu hari ditengah musim penghujan dan bertepatan dengan awal musim tanam jagung, sorang petugas lapangan datang kepada saya sambil menunjukkan beberapa butir jagung yang ia tanam beberapa hari sebelumnya yang mulai membusuk dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjadi tanaman baru.

“Ai…. Sia-sia saja bungkuk seharian, jagungnya banyak yang ndak tumbuh,” begitu keluhnya pada saya kala itu. Petugas lapangan lain yang kebetulan berada tak jauh dari kami berdua juga turut urun bicara, “Jelas saja, lha wong banyak hujan, tanahnya tergenang, bagaimana jagungnya mau tumbuh, busuk iya!”

Saya sebenarnya kasihan dengan petugas lapangan itu, jelas saya ndak bisa berbuat banyak untuk menumbuhkan jagung-jagung itu

“Ya sudah.. siapkan saja benih baru, nanti disulam, jangan lupa buat alur biar airnya tidak menggenang di lahan.” Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut saya.

Secara mendasar, memang jagung sulit tumbuh dengan baik di musim penghujan, karena kebutuhan manusia yang tak bisa terhenti-lah yang mengharuskan jagung ada dan tersedia sepanjang tahun, tentu manusia harus berfikir untuk mengatasinya.

Air memang perlu, untuk segala kehidupan di bumi ini, tak terkecuali jagung-jagung itu. Tetapi tahukah, bahwa jagung-jagung itu sama sekali tidak mau tumbuh ketika tempat dia diletakkan tergenang air? Ada apa gerangan?

Jagung juga makluk seperti kita,meski tak dapat bicara, meski tak dapat merasa, tapi ia juga dikodratkan Tuhan untuk tumbuh dengan tantangan-tantangan agar ia menjadi kokoh dan berguna. Tantangan paling sesuai untuk butir jagung adalah keterbatasan air. Dengan air yang terbatas, jagung akan menumbuhhkan akar-akarnya untuk mencari air jauh kedalam tanah, ini alamiah, perimbangan pertumbuhan akarnya itu kemudian ia memunculkan daunnya, memanfaatkan hasil hasil kerja keras akar menembus tanah untuk menghadrkan pemandangan hijau diatas tanah kemudian ketika pertumbuhannya maksimal, ia akan menghadirkan bunga dan disusul buah untuk melengkapi kodratnya sebagai makhluk tuhan untuk berbuah dan berkembang biak dan menggenapi tugasnya untuk menghadirkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk kehidupan dibumi.

Kita juga seperti jagung-jagung itu, ketika hidup kita berlimpah, terkadang kita lupa untuk tumbuh, atau malah malas untuk tumbuh dan akhirnya kehilangan makna hidup. Saat kita ditempa keterbatasan-keterbatasan kecil, tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah misalnya, padahal ingin sekali melanjutkan sekolah seperti teman-teman yang lain, dan mendapatkan pekerjaan serta mempunyai kehidupan yang lebih baik di masa depan, tentu kita akan berusaha keras bagaimana mendapatkan biaya sekolah. Bekerja paruh waktu untuk sekolah, menjadi pengajar di bimbingan les pada malam hari dan sebagainya. Dari tantangan terberat untuk tetap bisa melanjutkan sekolah itu, secara langsung akan berdampak pada keberlangsungan pendidikan, inilah pertumbuhan pertama akibat dari sebuah tantangan, pertumbuhan pertama ini di kemudian hari akan berdampak pada pertumbuhan berikutnya, yang pastinya lebih baik, pekerjaan yang layak, penghidupan yang mapan serta serangkaian dampak lainnya yang dapat kita arahkan sesuai keinginan kita.Analogi kehidupan yang pantas kita renungkan bukan?? Alam selalu mengajarkan kita untuk lebih arif memandang hidup ini, demikian pula dengan butir-butir jagung itu. [SBA]

4 Responses

  1. Ternyata kalau kita mau berfikir, terbentang ayat-ayat kauniah yang ada di sekitar kita yaa.
    Saya kalau mbaca tulisan tentang tanaman jadi ingat waktu smp, dulu cita-cita saya jadi tukang insinyur pertanian, waktu itu saya suka pinjam buku-buku tentang tanaman di perpus eee malah jadi akuntan (makanya saya nggak boleh akredit, harus akontan) he he he

  2. Jagung..2x jagung yg dlm.., eh salah, cangkul2 cangkul yg dlm, hehehe.. Jadi ingat wktu skolah. Alam dan tumbuhan kerap memberi kita pelajaran, sayangnya kita srg tdk menyadari itu. Lihatlah padi, smakin ia berisi, smakin ia mnunduk. Definisinya smakin berilmu seseorg itu, smakin ia merendah. Ada satu lagi buah kelapa. Smakin ia tua, smakin ia berminyak, hayyo..artinya apa..?

  3. Semakin tua mobil maka “seal”nya semakin rusak, sehingga olinya atau minyaknya pada netes kemana-mana.

    Gitu mungkin maksudnya Mas Jiwa Kelana.

    Salam

  4. mba’ Melati, salam kenal ya, saya terkesan dengan cerita mengenai “Jagung”, memang kadang2 kita lupa bahwa kita bisa belajar dari mahluk hidup lain selain yang bisa bernafas. Aku liat blog mba dari mas sugeng, aku jauh dari kota mba, makassar-sulawesi. Karena aku baru pemula di blog ini makanya aku belajar dan belajar.

Leave a Reply