
Kontemplasi, resolusi dan aksi, tiga istilah yang akrab di telinga, terlebih menjelang akhir tahun dan diawal tahun berikutnya. Banyak orang memproklamasikan dirinya akan berkontemplasi, melakukan resolusi dan berbuat yang lebih baik untuk masa berikutnya. Lalu, apakah kontemplasi adalah sebagai perwujudan dari menyesalkan hari kemarin, dan resolusi dilakukan karena mencemaskan hari esok.. Ups.. tunggu dulu!!
Kontemplasi (contemplation) lebih merupakan perenungan tentang kebaikan, keberhasilan, kegagalan bahkan kesalahan yang pernah kita lakukan, seberapa besar keberhasilan, seberapa besar kesalahan dan seberapa parah kegagalan, dari situ akan terlihat potret seperti apa diri kita beberapa waktu kebelakang.
Orang tentu tidak bisa berhenti sampai tahap kontemplasi semata, apabila seseorang hanya berhenti pada tahap ini, yang mempunyai keberhasilan dan kebaikan lebih banyak dibanding kegagalan dan kesalahannya akan menjadi orang yang terlalu berpuas diri sedangkan bagi mereka yang justru sebaliknya tentu pikirannya hanya akan dijejali dengan penyesalan, penyesalan dan penyesalan. Inilah pentingnya resolusi, sebuah ketetapan hati untuk pemecahan masalah, ketetapan hati untuk menjadikan kegagalan sebagai pengalaman berharga dan pemicu meraih keberhasilan di kemudian hari dan menjadi dasar untuk bertindak/beraksi. Akhirnya aksi yang dilakukan adalah yang terbaik dari sekian alternative tindakan yang ada dan memungkinkan kita untuk memastikan bahwa kita bukanlah man who suffer from a lack of resolution (orang yang menderita karena tidak tegas)
Wadhuh.. kenapa saya menjadi orang yang berteori ya? Sebenarnya uraian diatas baru muncul dikepala saya beberapa saat lalu. Waktu saya membuka email hari ini saya dapati pesan Edy zaqeus dan mengarahkan saya mengunjungi situs anda luar biasa. Saat layar perlahan muncul, yang menarik di mata saya adalah Inspirasi Dunia.
”anda tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan rasa takut atau apa yang mungkin terjadi di masa depan. Kita tidak akan bangkit dengan cara itu”
Michelle Obama
Ungkapan yang tepat disaat yang tepat, kita tidak bisa mengambil keputusan penting untuk hidup kita sendiri karena alasan rasa takut, juga tidak bisa mengambil keputusan yang kurang tepat karena kecemasan berlebihan terhadap kemungkinan kemungkinan yang akan kita hadapi di masa mendatang, karena sesungguhnya kecemasan yang berlebihan terhadap apa yang akan terjadi esok adalah rekayasa pikiran yang cenderung berorientasi negatif dan perlahan akan menggerogoti semangat kita untuk melakukan yang terbaik dan akhirnya bukan kebangkitan yang kita peroleh tetapi justru keterpurukan.
Kembali ke kata kontemplasi, resolusi dan aksi serta ungkapan bijak Michelle Obama sedikit banyak terjadi dalam diri saya sebulan belakangan ini. Sebenarnya semenjak pertengahan 2008 saya sudah merasakan ada perubahan dalam diri saya, saya mulai jarang menulis, menghabiskan waktu hanya untuk berjalan-jalan dan sesuatu yang tidak berguna, saya mengambil keputusan bodoh yang sempat membuat jiwa saya labil, dan saya mau tidak mau menerima akibatnya, tak satupun tulisan bermutu saya hasilkan, prestasi kerja saya dikantor kurang begitu memuaskan dan sebuah teguran keras dari seorang sahabat yang secara tiba-tiba datang ”Woy.. mengapa kau jadi mundur, mengapa kembali kau masuk ke area abu-abu, mana ketegasanmu, butakah dikau, dasar manusia ndak jelas?” Dasar manusia ndak jelas, kalimat yang kasar, pedas di telinga, tetapi membuat saya bangun dari tidur panjang saya dan saya menyadari bahwa I did fruitless things and wasted my time.
Berbekal kesadaran bahwa lebih banyak hal sia-sia yang saya lakuan dan waktu yang terbuang percuma akhirnya dua minggu menjelang tutup tahun saya putuskan untuk berpuasa hingga hari terak, bukan untuk tujuan ibadah semata, juga bukan untuk sebuah ritual tertentu, tetapi lebih untuk memaksa diri saya agar kembali ke kebiasaan awal saya yang baik, saya mau tak mau harus bangun pagi untuk makan sahur, dikala siang lapar dan emosi saya memuncak, saya akan teringat bahwa saya sedang berpuasa dan saya mestinya menjadi lebih sabar, dan dengan puasa pula saya sepanjang waktu mengingat perjuangan ayah dan ibu saya yang harus membesarkan anak-anaknya, bekerja tanpa kenal waktu, hidup prihatin hanya demi saya dan saudara-saudara saya. Hal penting yang saya lupakan.. ya.. perjuangan ayah ibu. Puncak dari kontemplasi saya adalah ”kembali” ke ayah, ibu, dan disertai sikap berserah diri pada Tuhan tentunya.
Ketika tahun berganti dan kontemplasi menurut saya telah mencapai puncaknya, ternyata saya belum bisa melakukan resolusi secara serta merta, saya masih harus menemukan jalan terbaik, hingga suatu saat tiba-tiba dikepala saya muncul ide untuk menggoreskan kuas. Maka pergilah saya membeli cat acrylic, kanvas dan kuas. Hemm.. hasil coretan saya tidak jelek-jelek amat saya rasa, dalam dua hari saya menghasilkan 7 gambar yang kemudian saya share di blog maupun facebook memenuhi tantangan teman-teman untuk berani menampilkannya kepada publik. Coretan saya mendapat tanggapan yang beragam dari orang-orang yang mengenal saya. Ternyata saya bisa, saya sanggup dan saya mampu berkarya, sebuah resolusipun akhirnya diambil, saya harus menulis, bekerja dengan penuh semangat seperti ketika saya menggambar dan e-mail dari Edy adalah yang menjadi cambuk saya untuk berkarya saat ini hingga saya berani memastikan saya tidak merisaukan kesalahan saya di masa lalu, dan saya tidak takut tentang apa yang akan terjadi esok, karena esok bukan untuk disesalkan, tetapi esok akan dipenuhi dengan peluang dan kejadian-kejadian menakjubkan.
Kesadaran yang diperoleh ketika berkontemplasi, resolusi yang diambil serta aksi yang dilakukan untuk memperbaiki hidup tentu saja berbeda antara satu orang dengan lainnya, karena masing-masing orang mempunyai latar belakang yang berbeda, kondisi lingkungan yang berbeda dan cara pandang terhadap kehidupan yang berbeda pula. Semua berpulang kepada visi masing-masing orang. Cara berkontemplasi, berresolusi dan beraksi orang yang menginginkan kemapanan finansal dengan menjadi pengusaha hebat tentu berbeda dengan cara yang ditempuh orang yang menginginkan menikmati hidup dengan kebersahajaan.
Kontemplasi, resolusi dan aksi juga tak semata-mata berlaku untuk individu, sebuah organisasi, institusi yang didalamnya berisi sekumpulan individu juga senantiasa berkontemplasi, berresolusi dan beraksi untuk mencapai tujuannya. Bagi orang kantoran seperti saya tentu akrab dengan istilah evaluasi akhir tahun dan penyusunan rencana kegiatan tahunan di awal tahun, visi institusi dan misi institusi. Evaluasi akhir tahun merupakan cara sebuah organisasi untuk berkontemplasi, mendokumentasikan keberhasilan yang diperoleh, mendata kegagalan yang dialami dan penyebabnya. Sedangkan Penyusunan rencana tahunan merupakan aksi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan, sementara resolusi yang di ambil tercermin dari misi organisasi/institusi tersebut.
Mengingat sebuah organisasi atau institusi terdiri dari individu-individu dengan beragam orientasi dan cara berfikir, tak jarang sebuah institusi mengalami kemandegan ketika berkontemplasi dan merumuskan aksi yang akan dilakukan kemudian. Individu-individu dalam organisasi maupun institusi seringkali terjebak dalam debat kusir yang tak berkesudahan. Biasanya penyebab terhambatnya penyusunan rencana kerja itu adalah individu-individu yang mempunyai pola pikir negatif dan terlalu pesimis terhadap keberhasilan yang mungkin diraih. Orang-orang dengan pola pikir seperti ini cenderung bersikap kritis dan mengemukakan argumen-argumennya yang seringkali tak lebih dari hayalan-hayalan tak berdasar dan biasanya akan mudah mempengaruhi jalan pikiran orang lain. Jika kondisi sudah seperti itu, cara terbaiknya adalah mengarahkan kembali fokus pemikiran orang-orang tersebut ke visi yang akan dicapai kemudian dilanjutkan dengan analisis sederhana terhadap peluang, tantangan, hambatan dan kekuatan yang dimiliki serta mendorong cara pandang yang proporsional terhadap keempat hal tersebut.
Akhirnya, baik secara individu maupun organisasi atau institusi, dalam berkontemplasi, berresolusi dan beraksi harus mengedepankan prinsip bahwa hari kemarin bukan untuk disesalkan dan apa yang akan terjadi kemudian bukan untuk dicemaskan, sehingga keputusan-keputusan penting yang diambil adalah keputusan yang tepat dan terfokus pada tujuan . [SBA]
Filed under: pelajaran hidup | Tagged: Kontemplasi, pribadi, resolusi








wah tambah banyak pengalaman ya….piye kabare Bud?
kabar baik mar.. manusia kan tambah tua tambah pengalaman to
Iya, tua adalah satu hal yang mungkin tidak kita sadari. Waktu habis hanya untuk mengejar kebutuhan dan mungkin sangat sering kita lupa pada Tuhan. Bukankah kehidupan kita yang “seamburadul” ini sudah diatur oleh-Nya? Lalu kenapa kita lupa untuk selalu kembali padaNya sehingga kita bisa menata hidup kembali lebih baik