Ujian keberanian itu datang pada saat kita berada dalam kelompok minoritas, dan ujian toleransi datang ketika berada dalam kelompok mayoritas (Ralph W. Sockman)
Kali ini bahasannya agak serius, tentang budaya.. lho.. kok tiba-tiba saya membahas tentang budaya, hemm.. saya Sangat tertarik dengan tulisan blog bertajuk Berbeda Haruskah Ekstrem? Akan tetapi tulisan tersebut cenderung mengarah kepada perbedaan agama dan bagaimana menyikapinya. Berbeda keyakinan agama bukan berarti harus menghakimi pihak lain yang berbeda sebagai kafir, tetapi semestinya perbedaan semestinya menjadi ajang persaingan untuk berlomba-lomba menebar kebaikan, bukan saling memerangi.
Dalam segala aspek kehidupan sosial di bumi ini selalu saja ada perbedaan, entah itu dilihat dari sisi agama, budaya, bahasa, dan sebagainya. Semua sisi tersebut tak jarang menimbulkan perselisihan, akibat adanya perbedaan interpretasi (kesalahan penafsiran) dan perbedaan pemahaman. Itulah mengapa kemudian muncul istilah intercultural communication atau intercultural dialogue untuk menjembatani segala perbedaan yang ada agar segala bentuk hambatan dalam komunikasi akibat kungkungan agama, budaya dan bahasa yang berbeda dapat diatasi.
Satu hal yang tidak bisa kita mungkiri adalah tak jarang bahwa interaksi budaya, agama, dan bahasa di seluruh dunia dalam konteks pergaulan internasional selalu menghadirkan satu budaya yang dominan/mayoritas dan ada satu budaya yang menjadi minoritas, dan kita sebagai orang awam, kondisi mayoritas dan minoritas ini sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Ada kalanya kita berada sebagai bagian dari sebuah kelompok mayoritas dan ada kalanya kita berada sebagai pihak minoritas dengan segala hambatannya.
Trik yang paling baik menurut saya (disamping dengan memperlancar memahami bahasa yang berbeda dan budaya yang berbeda tentunya), agar sebuah hubungan yang berbeda latar belakang agama, budaya dan bahasa dapat terjalin serta meminimalisir kesan mayoritas dan minoritas yang kadang memicu penindasan sebuah kelompok yang dianggap mayoritas atas kelompok minoritas adalah trik yang disampaikan oleh Ralph W.Sockman dalam kutipan awal postingan ini yakni ketika berada di kelompok mayoritas kembangkanlah sikap toleransi dan ketika berada di kelompok minoritas kembangkanlah keberanian. Toleransi akan mengajarkan kita semua untuk menghargai, menghormati serta berusaha memahami segala bentuk perbedaan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai anugerah. Sedangkan keberanian yang ditekankan bagi mereka yang sedang berada dalam kelompok minoritas bukan sekedar berani (berani mukul orang, berani melawan dll) tetapi berani menyuarakan kebenaran, berani menunjukkan identitas kesejatiannya, dan menunjukkan jati dirinya serta berani menunjukkan fleksibilitas dan kemampuannya untuk berbaur bersama kelompok mayoritas tanpa merasa berada di tempat yang terasing.
Filed under: Budaya | Tagged: BC Blog COmpetition -ICD








maksudnya kan bukan gini ya:
orang miskin di indonesia pastilah mayoritas penduduk di negeri ini, sehingga harus toleransi kepada para koruptor yang jumlahnya minoritas
bagus tulisannya
yo.. saling toleransi.
saling menggunakan kebebasannya dg penuh tanggung jawab, dengan memperhatikan kebebasan orang lain juga..
sedikit OOT :
kebebasan berkeyakinan jangan diarahkan ke bebas untuk melecehkan keyakinan orang lain..
kesimpulan saya:
(*) minoritas-mayoritas menjadi ada sebagai kebiasaan manusia membanding-bandingkan sesuatu
(*) penindasan biasanya dimulai dengan adanya rasa takut, tetapi didorong oleh rasa kuat/besar (lho? kok? emang iya kan?)
……permisi
Dia menjadi mayoritas, dan orang lain menjadi si minoritas? Beda lagi lah ceritanya, dia nggak mungkin marah-marah untuk membela si minoritas. …