Dampak Kenaikan Kedelai di Tingkat Konsumen

2008 April 14
by toeti

Awal tahun 2008 pertanian di Indonesia dibuat terhenyak dengan kenaikan harga kedelai yang mencapai 200 % dari kisaran harga Rp 3.500,00 menjadi Rp 7.500,00 per kilogram. Kenaikan harga kedelai itu pula yang menyebabkan orang kemudian melontarkan argumen bahwa langkanya kedelai di Indonesia juga disebabkan oleh melemahnya gairah petani Indonesia dalam membudidayakan tanaman kedelai.Alasan kedua sebagai penyebab langkanya kedelai di Indonesia, pendapat ini juga ada benarnya mengingat selama ini, harga kedelai di pasaran terlalu rendah dan tidak memberikan keuntungan yang sepadan dengan kerja keras petani.

Setelah mencuatnya berita kenaikan harga kedelai di pasaran, barulah dimunculkan terobosan-terobosan baru untuk peningkatan produksi kedelai di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Berbagai jenis benih unggul diekspose di media massa dengan berbagai analisis yang sangat manis untuk menarik kembali minat petani Indonesia untuk menanam kedelai kembali

Bila kenaikan harga kedelai nasional membuat petani serasa mendapatkan hembusan angin surga, lain halnya dengan keadaan pengrajin tahu tempe. Para pengrajin tahu dan tempe menjerit, bahkan berhenti berproduksi. Mahalnya harga bahan baku dan minimnya keuntungan yang diperoleh yang dirasa tidak sesuai kerja keras yang dikeluarkan menjadi alasan utama para perajin tahu tempe ini berhenti berproduksi. Keharusan menyediakan modal dua kali lipat untuk tetap menjalankan roda industri kecilnya serta keharusan para penjual produk lanjutan yang berbahan dasar tahu tempe seperti para penjaja gorengan juga harus menyediakan modal lebih maka tak ayal ada penjaja gorengan yang frustasi dengan kondisi ini dan memilih mengakhiri hidupnya.

Semenjak kenaikan harga kedelai menjadi pembicaraan publik, pemerintah mengambil kebijakan impor kedelai dengan bea impor 0 % untuk menurunkan harga, sementara didalam negeri petani didorong untuk kembali bergairah dalam menanam kedelai, sungguh kondisi yang kontradiktif yang secara tak langsung memaksa kedelai lokal bersaing dengan kedelai impor yang jauh lebih baik kualitasnya. Apakah kebijakan ini akan efektif untuk masa mendatang? Kita lihat saja nanti.

Selama ini terkait dengan kenaikan harga kedelai, pihak-pihak yang diperhatikan seolah-olah hanya petani dan pengrajin tahu tempe saja, konsumen sebagai komponen akhir dalam mata rantai pemasaran kedelai dan produknya hampir luput dari perhatian. Yang ditonjolkan jelas, harga tempe tahu otomatis naik, ada konsumen yang keberatan dengan kenaikan harga tersebut titik dan permasalahan akibat kenaikan harga kedelai hanya berhenti sampai disitu tak ada yang menyinggung dampak kenaikan kedelai ditinjau dari segi keamanan produk tahu tempe yang dikonsumsi masyarakat.

Untuk produk tahu, mungkin efek munculnya produk yang tidak layak konsumsi terhitung kecil, karena dalam memasarkan tahu, kenaikan harga kedelai rata-rata disikapi pedagang dengan memperkecil ukuran irisan tahu. Berbeda dengan produk kedelai yang berupa tempe. Pengrajin tahu tempe yang berusaha survive ditengah kenaikan harga kedelai, serta memenuhi tuntutan konsumen yang menginginkan tempe dengan ukuran yang tidak berubah harus disikapi dengan menambahkan bahan pengisi/campuran dalam proses pembuatan tempe. Bahan campuran yang biasa digunakan oleh pengrajin tempe dapat berupa ampas tahu, jagung putih giling, sampai ampas parutan kelapa.

Tempe dengan bahan baku yang telah dicampur dengan bahan lain sepertinya sudah menjadi hal umum di pasaran, tak terkecuali di pasar yang ada di kawasan Gowa-Makassar. Konsumen yang tidak jeli dalam membedakan tempe murni dan tempe dengan bahan campuran pada saat membeli akan gembira dan merasa tak ada dampak kenaikan harga kedelai baginya, tetapi setelah mengkonsumsi bisa dipastikan akan memperoleh cita rasa yang sangat berbeda dengan tempe murni. Untuk itu penting kiranya konsumen untuk memperoleh pengetahuan dalam membedakan tempe murni dan tempe dengan campuran.

Tempe murni, atau tempe dengan bahan 100 % kedelai apabila dipotong miring akan tampak mata (butir-butir kedelai) yang rapat, saling berdekatan, apabila dicium, baunya murni kedelai dan bila dipegang lebih padat. Tempe murni ini apabila diolah baik digoreng atau dimasak dengan air, akan mengelurkan aroma khas kedelai, dan bila masakan telah matang akan muncul aroma gurih.

Berbeda dengan tempe murni, tempe campuran pada saat mentah sudah tercium aroma agak asam. Aroma asam ini ditimbulkan oleh fermentasi yang terjadi pada bahan campuran yang bisa berupa jagung, ampas tahu atau ampas kelapa. Semakin banyak campuran, semakin terasa aroma asamnya. Aroma asam dalam tempe campuran ini akan terasa sampai tempe tersebut diolah. Selain dari sisi aroma, tekstur tempe dengan campuran juga lebih lembek, dengan jarak antara mata (butiran kedelai) berjauhan dan diantaranya akan nampak bahan campuran.

Bahan campuran yang dipergunakan dalam tempe tidak selamanya aman. Tempe yang dicampur dengan ampas kelapa misalnya, apabila amas kelapa yang dipergunakan masih mengandung minyak, maka akan ada sejenis bakteri yaitu Pseudomonas cocovenenas yang kemudian membongkar sisa minyak menjadi zar lain. Keberadaan bakteri Pseudomonas ini tak ubahnya musuh dalam selimut. Minyak yang berasal dari kelapa akan diumah oleh Pseudomonas cocovenenas menjadi gliserin dan asam palmitat. Apabla tempe ini dimakan ketika hasil pembongkaran minyak masih berupa asam palmitat tidak akan menimbulkan keracunan, tetapi apabila proses pembongkaran berlanjut maka gliserin akan rusak dan diantara senyawaannya ada yang membentuk Toxoflavin (racun kuning) dan asam palmitat yang dibongkar juga akan menghasilkan asam bongkrek dengan daya peracunan yang lebih dahsyat daripada toxoflavin… hemmm ternyata cukup mengerikan.. dan pada tahap ini, konsumenlah yang akan menjadi korban.

Dampak berantai dengan menempatkan konsumen sebagai korban terakhir yang tidak pernah diperhitungkan ini sama dengan keterkejutan seluruh bangsa ini mendapati harga kedelai yang meningkat 20 % sebagai dampak dari kenaikan harga kedelai dunia yang supply-nya menurun karena adanya konversi lahan budidaya kedelai menjadi lahan budidaya jagung sebagai bahan baku bio-energi sebagai respon dari kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US $ 110 per barel. Panjangnya rantai dalam tata niaga dan pemanfaatan kedelai sebagai komoditas pangan ini hendaknya disikapi dengan kebijakan yang menyeluruh dan penuh pertimbangan agar tidak hanya meredam permasalahan yang terkait dalam jangka waktu yang pendek saja.

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS