Sekokoh dan Selentur Bambu

Hujan masih menghiasi langit Sungguminasa sore itu dan sesekali petir juga menggelegar mengejutkan semua orang yang harap-harap cemas menanti hujan reda agar dapat melakukan perjalanan menuju Parang Banoa. Menjelang Ashar akhirnya hujan benar-benar berhenti tercurah dari langit, kami ber-sepuluh memasuki mobil masing-masing dan bersiap melakukan perjalanan akhir pekan. Mulut saya seolah terkunci, bukan karena sariawan sedang menghiasi mulut dan gusi, melainkan karena saya tidak mengenal orang-orang yang bersama saya saat ini. Yang saya tahu hanya Pak Hasyim, dan Ibu Sohra, Seorang Mahasiswa S3 Bidang Lingkungan Hidup yang sedang melakukan penelitian tentang cacing tanah. Senang rasanya bisa berada diantara mereka, saya banyak belajar mengenai kearifan-kearifan lokal yang kadang dilupakan orang seperti saya ini. Mobil meninggalkan kota Sungguminasa melewati jembatan kembara yang menjadi icon Kabupaten Gowa, kami memasuki Kecamatan Pallangga menuju Perkampungan Parang Banoa. Sebenarnya, kalau saja tidak ada sungai Je’ne Berang yang melintasi kabupaten gowa, Parang Banoa ini letaknya hanya 1-2 kilometer di belakang kantor saya, ada jalan pintas dan kemudian disambung dengan perahu untuk memasuki Parang Banoa seperti perjalanan yang pernah kami lakukan, tetapi karena kali ini cuaca tidak bersahabat dan arus sungai agak meningkat, kami semua lebih memilih menggunakan mobil. Sepanjang jalan saya hanya sibuk dengan pikiran saya sendiri, memandang persawahan yang luas. Jalan yang berkelok-kelok tak sama sekali tak mampu mengganggu apa yang sedang saya pikirkan.. I Dont Care. 

Keadaan berubah ketika mobil mulai memasuki perkampungan, saking ributnya orang-orang mengomentari apa yang dia lihat, saya pun turut larut dalam pembicaraan, mulai dari mengomentari pohon maja dan buahnya yang banyak tumbuh disepanjang jalan desa berlubang yang kami lewati, rumah-rumah penduduk yang masih asli berupa panggung yang terbuat dari kayu dan juga kami juga sempat melontarkan kalimat-kalimat yang mengutarakan ironisme-ironisme yang terjadi, Parang Banoa letaknya tak jauh dari Kota Makassar, namun hampir sebagian penduduknya belum menikmati fasilitas yang ada seperti perkampungan lain, kehidupan sosial penduduknya pun juga jauh tertinggal. Semakin jauh kami menjelajahi Parang Banoa, saya semakin takjub oleh keindahan alam yang masih asli di tempat yang tak jauh dari Kota Makassar yang hingar-bingar oleh kesibukan orang sekedar untuk mengumpulkan kepingan-kepingan rupiah. Di belakang pemukiman penduduk setempat, kami mulai memasuki hutan bambu yang sangat rapat, sungguh, tak terlukiskan keindahannya, sesekali kami medapati pohon besar yang tumbuh menjulang disela-sela pohon bambu. Semakin jauh menyusuri hutan bambu ini, saya menjadi tahu, bahwa hutan bambu ini berada persis di tepi sungai Je’ne Berang. Bila sepanjang perjalanan yang pernah saya lakukan kearah malino, saya mendapati hutan yang gundul, tetapi di Parang Banoa justru sebaliknya, hutan bambu yang rimbun menyejukkan mata dan batin saya setelah seminggu energi dan emosi terkuras di tempat kerja. 

Pemandangan yang saya temui di Parang Banoa memiliki kesamaan dengan pemandangan yang ada di Lengkong Sari. Perkampungan kecil di Kabupaten Magelang yang menjadi kampung yang terisolir oleh adanya aliran Sungai Blongkeng dan adanya sebuah bukit yang mengakibatkan untuk menjangkau perkampungan tersebut bila berjalan kaki bisa mengambil jalan pintas menyeberangi sungai dari arah Kota Muntilan, namun jika menggunakan mobil, harus berjalan memutar mengitari Bukit Gunung Sari dan melewati persawahan yang luas, dan jika mengendarai kendaraan roda dua bisa melewati jalanan sempit yang dibuat masyarakat dengan memotong perbukitan. Kemiripan yang nampak jelas adalah pada penduduknya yang rata-rata masih menempati rumah-rumah tradisional dan masing-masing perkampungan tersebut memiliki hutan yang didominasi oleh tanaman bambu. Sepanjang perjalanan saya di beberapa daerah di pulau jawa, dan pengamatan sehari-hari saya di beberapa kawasan pegunungan dan perbukitan, tanaman bambu hampir mendominasi kawasan tepi sungai dan juga kawasan-kawasan di kaki bukit dan kaki gunung. Yang paling mengesankan adalah populasi tanaman bambu di kaki Gunung Merapi, dari penjuru manapun kita mendekati puncak merapi, selalu saja kita akan menemui pohon bambu. Dari arah Cangkringan, Turi, Magelang bahkan Boyolali.

Masa kecil saya-pun tak lepas dengan benda-benda yang terbuat dari bambu ini.  Saya pribadi mempunyai kehidupan yang tak pernah lepas dari bambu. Masa kecil saya pernah saya lewatkan di sebuah perkampungan yang masih sangat sepi pada waktu itu, dimana rumah saya yang pertama adalah rumah beralas tanah dengan dinding dari bambu basah yang dianyam oleh ayah dan kakek. Ketika anyaman bambu mengering, dinding rumah saya tak lebih hanya sekedar pengukuh bahwa ada sebuah bangunan yang berisi orang, pada malam hari, udara dingin Lereng Merapi begitu leluasa menerobos masuk dan membuat saya yang kala itu masih balita, ibu dan ayah harus merapatkan kain batik  yang menutupi tubuh. Seiring berjalannya waktu dan sejalan dengan petualangan kecil yang pernah saya lewati hingga saya berada di daratan Sulawesi saat ini dan mengukir kembali kenangan pohon bambu di Parang Banoa, pohon bambu tak hanya menjadi bahan untuk sekedar membuat ajir tanaman, dinding rumah, atau kayu bakar. Keberadaan pohon bambu telah menjadi bagian dimana saya dapat belajar dan memaknai hidup ini. Di masa kecil saya tinggal di sebuah kebun luas yang diberikan kakek kepada ayah, sebuah kebun ditepi sungai. Bagian kebun yang merupakan sisi sebuah sungai kecil  sering sekali longsor akibat tanahnya terbawa arus sungai. Kami sekeluarga tak memiliki cukup uang untuk membeli batu dan semen untuk membuat tanggul yang cukup kuat, jika sudah begini, ayah akan memotong tanaman bambu legi (pring legi) kemudian ditancapkan di tebing sungai, dan antar patok satu dengan patok lain dengan jalinan tali yang terbuat dari bambu apus untuk menahan tanah agar tidak terus terbawa arus sungai.  Selama beberapa bulan, patok-patok bambu itu tetap berwarna hijau, sebelum dari buku-bukunya muncul tunas baru. Selama berbulan-bulan patok bambu itu bersemedi..tetapi di bagian bawah.. dibagian buku-buku yang tertanam di tanah.. akar-akar serabut tumbuh pesat, menjalar kemana, memperkokoh posisinya di tebing sungai, membentuk jalinan yang saling merekatkan satu sama lain, diam-diam patok bambu itu menyusun kekuatan di tempat tersembunyi terlebih dahulu, kemudian baru memunculkan tunas-tunas baru dibagian atas dan memamerkan daunnya yang selalu hijau sepanjang tahun. Sadar atau tidak,patok-patok itu telah mengajarkan pada kita untuk membangun pondasi hidup yang kuat terlebih dahulu, baru kita tumbuh sesuka hati kita dan tanpa disuruhpun orang lain akan melihatnya, tak perlu menyombongkan diri. Tak Cuma patok yang menyebabkan bambu nyebar dimana-mana, tetapi terkadang orang menanam bonggol yang ada tunasnya, dan karakteristik tunas bambu juga unik, dia akan memperkuat akarnya terlebih dahulu, baru memunculkan tunasnya di atas permukaan tanah. Sebuah hasil kajian ilmiah menyebutkan bahwa tunas bambu ada yang dapat tumbuh 121 cm dalam sehari, dan pada akhirnya bambu dinobatkan sebagai tanaman yang yang mempunyai pertumbuhan tercepat di muka bumi.. wow.. fantastis bukan… ini mengajarkan bahwa bila pondasi hidup yang kita bangun cukup kuat.. kita dapat melesat secepat yang kita inginkan. 

Terkadang saya kasihan kepada bambu, ia cenderung tumbuh di tempat-tempat yang sulit seperti keluarga pomaceae lainnya. Lereng gunung yang tandus, tebing tebing sungai, tapi untungnya bambu tidak punya mulut, sehingga tak sedetikpun dia mengeluhkan ketidaklayakan tempat yang ditinggalinya, bahkan ketika si bambu harus tumbuh di lahan-lahan kritis yang air saja sulit didapat.. mereka tak pernah menangis. Yang paling tragis yang pernah dialami bambu adalah di Jepang dan di Jogja (ini sepanjang pengetahuan saya lho) ketika lereng merapi luluh lantak oleh awan panas yang menyembur.. beberapa waktu kemudian, bambu-lah yang tumbuh pertama kali sehingga selalu kita jumpai di lereng merapi, dari sisi manapun bambu selalu nampak, dan ini pula yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki, bambu yang tumbuh untuk pertama kalinya sebagai tumbuhan pioner setelah beberapa waktu sebelumnya bom atom meluluhlantakkan kedua tempat tersebut. Sampai disini bambu kembali mengajarkan kita bahwa dimanapun kita berada, sesulit apapun keadaan, tak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tak ada alasan untuk berlama-lama terpendam dalam keterbatasan, karena bagaimanapun pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun 

Setelah tanaman bambu tumbuh optimal, lengkap dengan ranting dan daun disekujur batangnya dan tinggi menjulang, apa yang kita lihat… ya. Daun bambu tumbuh lurus, tak ada satupun daun bambu yang sudah waktunya mekar kembali menangkup seperti daun bambu muda,dia tetap mekar  lurur, sampai waktu gugur tiba dan tergantikan oleh daun-daun baru, ya.. disini daun bambu menunjukkan kesetiaan kodratnya, tetap lurus dari awal hingga akhirnya harus lepas dari batang tempat dia bertaut untuk mendapatkan asupan makanan dari akar. Tahap akhir pertumbuhan pohon bambu tumbuh menjulang dengan kehijauan sepanjang tahun, walau badai datang, angin kencang menerpa, bambu tetap tak bergeming dari tempatnya bertumpu, walau jujungnya bergerak kesana kemari mengikuti dorongan angin ia senantiasa kembali ke posisi semula …. inilah simbol tuntutan hidup yang senantiasa harus fleksibel, lentur dan mengikutia rus tanpa harus roboh tercabut dari pondasi yang menjadi pijakannya.. seperti kata Krishnamurti yang dituangkan dalam bidadari words-nya : Terus membangun pondasi akar pondasi agar kokoh, terus membangun ruas demi ruas yang ulet hingga menjulang sangat tinggi, mengikuti terpaan angin hingga tinggi tanpa melawan, namun tetap kemballi ke tempat semula, kokoh, berprinsip dan lembut.

Kemampuan bambu untuk tumbuh ditempat yang sulit menyebabkan bambu tersebar dalam area yang sangat luas dari kawasan yang terbentang diantara 50 derajad lintang utara dan 47 derajad lintang selatan. Penyebaran yang luas memungkinkan banyak sekali penggunaan bambu untuk tujuan yang berbeda, sumpit di kawasan Asia Timur seperti jepang dan korea, bahan anyaman untuk wadah, perangkap ikan, sampai alat musik dan obor penerangan, ini mengajarkan kita bahwa dimanapun kita berada, dimana bumi dipijak, senantiasa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan sekitar kita. 

Begitu banyak intisari kehidupan yang dituturkan oleh bambu, begitu banyak pula perlambang-perlambang yang dibuat orang dari berbagai negara untuk mengabadikan ajaran-ajaran Tuhan lewat buku terbesar di dunia yang berjudul ALAM ini,  di China, bambu sebagai simbol umur panjang, di India sebagai simbol persahabatan,  di Vietnam, bambu dijadikan simbol kerja keras, optimisme kesatuan, kemampuan adaptasi.  Vietnam bahkan mengabadikan pelajaran berharga dari sebatang bambu ini dengan sebuah peribahasa ” ketika bambu tua, maka tunas baru akan muncul” ini berarti bahwa bangsa Vietnam tak akan pernah binasa, ketika generasi tua mati, maka muncul generasi yang lebih muda untuk menggantikannya. 

Keluhuran nilai yang ditampilkan oleh bambu ternyata tak hanya lewat pitutur-pitutur lirih yang hanya dapat dilihat dengan mata batin yang tajam, tapi juga disertai diikuti semangat tinggi seperti ketika sang bambu dipergunakan untuk senjata dalam perjuangan beberapa bangsa di asia tenggara. Pitutur-pitutur lirih itu juga disertai alunan merdu dari kulintang, seruling bambu dan angklung yang tercipta dari batang bambu yang berongga. Dan ketika kegelapan menyergap, bambu juga menyediakan tempat untuk menumpukan pelita yang biasa disebut obor oleh penggunanya, hingga tak ada lagi alasan untuk mengutuk kegelapan, nyalakan obor bambu sebagai penerang dan terus pelajari ajaran Tuhan yang tersembunyi di ALAM ini. 

Perjalanan akhir minggu ini, walau singkat dan di tempat yang tak pernah saya lirik sedikitpun padahal berada didepan mata, ternyata sungguh berharga… terimakasih pada rekan-rekan satu team survey Parang Banoa, Salwangga yang pernah memberi PR untuk menulis filosofi bambu, dan Om Kariyan yang membantu mengurai filosofi bambu.   

9 Responses

  1. terbuka mataku membaca tulisan ini, masa kecil seakan kembali terngiang.
    batangan bambu ori begitu berat aku panggul dipundak bersama tiga anak yang
    lain, beramai² kami mencuri bambu untuk membuat mercon.

    Mercon.. Huahua,, dolananku jaman cuilik juga

    caranya ? batang
    bambu dipotong sekitar 1,5 atau 2 meter ada juga yang sampai tiga meteran.
    salah satu ujung merupakan pangkal ( bongkot ) dilubangi bulat agak kotak
    diameter 5 centi. minyak tanah hasil nyomot disebelah tungku dapur ibuku
    pun mulai beraksi, padahal sejatinya minyak itu untuk daden geni -
    menyalakan api – tungku masak air setiap pagi. sayang, tangan terampilku
    lebih cekatan ngumpetin tuch minyak untuk nyalain “long pring – mercon
    bambu ” rame² dipinggir kali. bertelanjang kaki, kami berempat memanggul 2
    potongan bambu curian mencari tempat agak tersembunyi. gergaji, pethel (
    kampak ), bendo ( parang dengan ujung melengkung ) segera ambil tindakan.
    lubang kecil tercipta, minyak tanah kebagian tugas memenuhi separuh lubang.
    diyan senthir ( lampu dari bekas botol tonikum bayer di beri sumbu kecil )
    dinyalakan.

    mulut moncong nyaris mencium lubang yang kami buat sambil
    meniupkan angin, ujung bambu satu lagi ditangkringkan dengan dua steck (
    potongan kayu ) ditanam ketanah secara menyilang untuk menahan ujung bambu.

    tiup… blub… tiup.. blup, lebih dari sepuluh kali tiupan diselingi
    sulutan api mendekati lubang. setelah panas suaranya makin nyaring…
    blum…. bluuum…. dan akhirnya… blaaarrr…. blaarrrr……. dua mercon
    bambu saingan menghasilkan suara sekencang mungkin. itulah sekilas duniaku
    bersama bambu.

    dulu.. aku suka nguntit kanca-kanca sekampung nyalain long bumbung dipinggir kampung.. pura2nya perang melawan anak kampung sebrang sungai.. tapi apes, temenku yang bernama jimin,,.. lagi asik.. asik niup dan nyalain long.. e.. api mbalik.. alhasil idep,.. alis dan kuncungnya kena api.. seminggu lebih matanya cuma bisa kriyip2, nunggu bulumata numbuh.
    karena sering ngeluyur dan melakukan hal2 mbeling kupingku sampe panjang dijewer ibu.. hhuahuahua

    kembali ke tulisan. satu hal yang membautku berfikir dalam
    mencongkel pokok bambu dari dapur (rumpun)nya adalah, begitu sulit untuk
    mengambil batang bambu dalam satu rumpun. kami berempat dengan tenaga anak
    kecil berbahan bakar nasi jagung dan ikan asin atau bahkan kadang² hanya
    nasi thiwul lalapan daun singkong cukup kerepotan memotong dan menyeret
    keluar rumpun. lain halnya apabila bambu ini hidup sendiri, tentu mudah
    bagiku memotong.

    setelah membangun pondasi hidup cukup kuat untuk
    melecitkan potensi diri, jangan segera terlena dengan ketinggian menjulang,
    segera tumbuhkan tunas – tunas baru serumpun untuk membentuk jaringan.
    tidak pernah bambu hidup sebatang kara, sendiri, menjulang tinggi menantang
    angkasa, begitu angin menerpa, berliut, ujung menggelegak, roboh
    kemingkinan besar akan terjadi minimal patah atau bahkan pecah dari ujung
    sampai tengah tak sanggup menahan angin. bila bambu berada dalam rombongan
    ( rumpun ) sangat kecil kemungkinan angin mengalahkan. itulah hidup.

    sedigdaya apapun, setinggi menjulang apapun kreativitas, kita tidak bisa
    hidup sendiri. minimal butuh jaringan serumpun untuk memperkuat posisi
    diri. saling menopang, saling memperkuat, bersama² berlomba menumbuhkan
    tunas baru. wahai para penulis, atau sekedar penikmat tulisan, bersama
    filosofi bambu tulisan esbea ini, kita coba bersama² tumbuhkan tunas² baru
    dalam dunia penulisan.

    kalau hanya berdiri sendiri ibarat bambu satu
    batang, gampang sekali dipotong untuk dijadikan mercon bambu bahkan hanya
    oleh pencuri kecil seperti saya, tapi kalau dalam satu rumpun, mesti butuh
    empat anak untuk menyeret keluar komunitas. bersatulah sebagaimana rumpun
    bambu, tumbuh keatas menjulang, satu visi, satu pemikiran, satu arah
    tujuan.

  2. Ya ya filsafat bambu. Mencerahkan.

    Juga menyejukkan mata om Ersis

  3. Hmmm…hmmm….
    Memang jarang sekali jaman sekarang ini, manusia-manusia yang AWAS dan WASPADA terhadap lingkungan dalam skup kecil dan Alam Semesta ini dalam skup Makro. Yah…aku jadi teringat salah satu perkataan orang BIJAK….” Banyak orang lalu lalang di muka bumi ini, namun hatinya MATI “.

    hue.. om.. kita slewengkan aja Jargon Buka mata buka hati menjadi Buta mata.. Buta hati po… huekk.. Ampun aja dikeplak!

    Nah apa yang dilakukan mbak ESBEA ini sungguh nyata-nyata mementahkan perkataan tersebut.
    Dan, Kabar baiknya bagi saya adalah, mbak ESBEA yang secara gak disadari barangkali sesungguhnya telah ” MEMBACA ” ( Ikro’ ) yah…Tumbuh-tumbuhanpun ternyata dapat MENYADARKAN kita tentang MAKNA HIDUP. Seperti Aroma MELATI PUTIH yg selalu menebarkan WANGINYA buat makhluk disekitarnya.

    manggut-manggut…..manthuk-manthuk….memandangi pohon bambu.

  4. Dik SBA,

    Wah-wah tulisane apik banget, sampai saya rada mrinding. Saat sekarang ini
    sangat jarang orang bisa mengutarakan apa yang dilihat secara mendalam.
    Banyak yang melihat tetapi nggak melihat.

    Terimakasih Pak Sigit. Saya selalu ingat kata-kata pak Sigit waktu satu mobil pulang dari pos pengamat DI Pijenan… Melihat Yang tidak Melihat… alias Ndelok ning ora Weruh.. hue.. mirip-mirip kata-kata Prof. Suprodjo Almarhum.

    Melihat bambu pikirannya nggak
    sampai kepokok bambu, terus lewat, matanya hanya memelototi bambu tapi
    pikirannya kemana nggak tahu, ada orang lain yang melihat bambu pikiranya
    kapan le bisa dipanen dan jualnya kemana, ada yang lain lagi rebungnya enak
    dimakan nggak ya, terus kalau enak bisa dijual ke Semarang buat isi lumpia
    nggak ya. Lha yang memikiri filosofi bambu kok jarang ada ya.
    Sebagai informasi, saya dan Prof Sahid sedang diberi kesempatan untuk
    membangun suatu taman bambu di lahan green belt waduk Wadas Lintang di
    Kebumen. Tujuannya selain untuk konservasi waduk juga sebagai plasma nuftah
    bambu.Mudah-mudahan apa yang dipikirkan dik SBA bisa terlaksana di areal
    hutan bambu di Wadas Lintang ini, Insya Allah.

    Wah.. Semoga Pak… semoga memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat… dan bagi lingkungan. Saya juga mohon do’anya.. saya menjadi anggota tim untuk membantu petani2 disekitar hutan bambu yang saya ceritakan itu untuk melestarikan lahannya. Saya rindu banget dengan suasana ilmiah di laboratorium TSAP tercinta.. rindu suasana diskusi ilmiah namun penuh suasana kekeluargaan bersama Bu tutik, Bu Tining, Prof Sahid, Prof Muhjidin, Pak Kirno, pak Wisnu, Pak Ipul, dll. kapan ya bisa kembali.

    Salam,

    sigit 45

  5. Bagus bagus bagus.

  6. [...] gimana aku dalam semalam bisa nulis begitu toeti_yk: yang kamumaksud adalah ini kan mas toeti_yk: http://melatiputihku.wordpress.com/2008/03/16/sekokoh-dan-selentur-bambu-2/ someone: betul sekali mba. toeti_yk: toeti_yk: hehe toeti_yk: tersanjung aku [...]

  7. Wah bagus sekali tulisannya. Saya lagi belajar biar bisa “membaca” alam. Saya jadi teringat bangunan islam yang terdiri dari pondasi (aqidah), bangunan itu sendiri yang akan terlihat di luar (sub sistem mis. ekonomi, sosial, budaya, muammallah, akhlaq dll), atap/Pelindung (dakwah/amar ma’ruf nahi mungkar/jihad)
    Di tulisan itu aqidah digambarkan sebagai akar yang menghujam ke seluruh tanah yang akan menopang pohon dan daun yang kelak akan tumbuh. Akar ini bahkan tumbuh sebelum tunas. Jadi Aqidah itu harus dikuati dulu. Orang tidak akan melihat akar tapi melihat pohon yang indah (akhlak yang baik) yang tidak kaku sebagaimana akar, tetapi tetap lentur meski diterpa angin, tapi meski begitu dia tetap kokoh punya pendirian yang kuat karena aqidah/akarnya kuat. Luar biasa betapa indahnya ….

  8. Makasih kunjungannya pak Big Sugeng… makasih keterangan tambahannya juga

  9. filosofi ini penting bagi para pengguna dan pemerhati bambu pusaka yang ada di http://jaggersmanti.multiply.com, tentang unique, wonderful, and magical bamboos and woods

Leave a Reply