Minggu-minggu ini saya lebih rajin, berangkat kantor jauh sebelum jam kantor mulai. motivasi saya cuma satu, pengen merasakan udara pagi Makassar tanpa debu dan pasir yang masuk ke mata dan tanpa rasa ngeres (apa ya bahasa indonesianya ngeres?)di bibir akibat banyak debu yang nempel di lipstik..
Saya tinggal di kota Makassar dan kantor saya berada di Kab. Gowa. Eh ya.. selama berhari-hari menjadi orang yang rajin ngantor pagi-pagi, saya mengamati fenomena yang sama dengan yang ada di Jogja. Setiap pagi, jogja diserbu pasukan bersepeda dari segala penjuru demi mengais rejeki di pusat kota.. ada yang bersepeda, bersepeda motor atau bermobil. Di Makassar juga seperti itu, jalanan kearah kota Makassar baik yang dari arah Maros (diikuti kabupaten lain seperti Pangkep, Barru) maupun dari arah Gowa-Takalar (diikuti kabupaten lain seperti Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba) selalu dipadati kendaraan sementara arah sebaliknya.. arah saya menuju kantor lengang. urbanisasi pagi hari dan de-urbanisasi pada sore hari.. atau kalau meminjam istilah dari dosen saya dulu.. serangan fajar dan parade senja.
Rasanya dimanapun kehidupan yang dijanjikan kota besar.. tak terkecuali kota Makassar menarik banyak orang untuk datang mengadu nasib, meninggalkan desanya yang subur dengan dalih tidak ada pendapatan yang layak dengan di kampung.
Benarkah Makassar bener-bener menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang datang dari kampung.. saya kira tidak… setelah kematian Dg Basse akibat kelaparan, cukup membuka mata.. bahwa kehidupan di kota besar seperti Makassar itu kejam, terlebih bagi orang yang datang dari kampung tanpa keahlian, dan melakukan pekerjaan seadanya seperti menarik becak, atau jadi payabo(pemulung~bener gak ya tulisannya.. saya ndak tahu banyak bahasa Makassar).. setidaknya kasus kematian Dg. Basse telah membuktikannya.
Gemerlap kehidupan kota besar dengan lampu warna warni telah menyihir banyak orang untuk datang dan turut berada di dalamnya dengan harapan turut meramaikannya, mereka tak menyadari bahwa diri mereka tak ubahnya kunang kunang, meski membawa lampu di malam hari, tapi siang hari mereka akan mati.
Siapa suruh datang Makassar???
Filed under: celoteh








saya justru meninggalkan makassar, utk mengais ’sampah’ di negeri rantau..
hmm, mbak
coba deh bikin reportase sederhana a la warga ttg makassar dr sudut pandang pendatang, dan disampaikan ke redaksi panyingkul.. (tahu web nya kan, di panyingkul.com) itu web berbasis jurnalisme orang biasa yg berbicara seputar makassar sbg pusat gravitasi.
bagus deh mbak, siapa tahu bisa lebih membuka mata kami utk lebih mencintai makassar..
Hahahaha..
daeng Rusle..teeup..tak pernah kenal lelah ngajakin orang nulis…
tapi betul Mbak, sy setuju sm dg.Rusle..mungkin ada baiknya mbak bikin sedikit tulisan tentang kesan2 terhadap kota Makassar…
tidak ada yang menyuruh, dan juga tidak ada yang memaksa…yang terjadi adalah adanya push and pull factor…, mungkin saja di desa t4 tinggal dg Basse penuh dengan tekanan hidup sehingga ia melakukan migrasi ke makassar..ato mungkin saja kota makassar bisa menjanjikan kehidupan yg lebih baik, sehingga dg Basse tertarik ke makassar…
yang salah siapa…? yang salah ekonomi secara makro..kesejahteraan di seluruh negeri tidak merata..sehingga terjadilah push faktor di daerah2 yang minim sumber daya dan juga pull faktor di daerah2 yang infrastrukturnya sudah lumayan…
…..hmmmm…btw….sukses..
ihsan_lcd@yahoo.com