Yang Terpinggirkan Yang Menguatkan

Mempelajari ilmu konservasi tanah dan air selama di bangku kuliah, ditambah sekelumit pengalaman membagikan ilmu tersebut kepada mahasiswa membuat saya cukup akrab dengan istilah contour, lereng, rumput penguat lereng, teras bangku, sistem pertanian konservasi dan seabreg istilah konservasi lainnya.

Dari sekian banyak istilah tersebut, yang paling sering saya lihat dan sempat menjadi fokus perhatian saya tatkala saya berada disebuah desa penghasil susu adalah rumput penguat lereng. Daerah berlereng terjal dengan udara dingin sepanjang hari itu tumbuh berbagai jenis rumput yang sampai hari ini tak asing lagi ditelinga saya, king grass, Rumput BD (Brachiaria decumbens), Rumput BB, hingga rumput gajah.

Hampir semua jenis rumput diatas hidup dibagian tepi lahan, di talud-talud dan di tanggul-tanggul buatan untuk menghambat laju air hujan yang mampu menggerus permukaan bumi ini. Bisa dikata, berbagai jenis rumput ini merupakan tanaman terpinggirkan, akan tetapi walau terpinggirkan ia masih mampu mengelola hidupnya dengan baik, tumbuh subur menangkap energi dari matahari, masih mampu menjalin akar-akarnya yang memyerupai rambut menjadi sebuah jalinan kawat alami yang mampu menahan dan mengikat butir-butir tanah-tanah lepas menjadi satu kesatuan yang kokoh dan menjadi pijakan dan tumpuan hidup manusia dan binatang ternak yang ada disekitarnya, serta lebih jauh lagi mereka mampu melindungi kekokohan sebuah bukit agar tidak longsor di musim hujan.

Sahabat, sebagai tumbuhan yang mempunyai peran tidak kecil bagi kelangsungan produksi susu dan daging sebagai penggerak ekonomi masyarakat, rumput-rumput itu sama sekali tidak protes, tidak pula menurun produksi biomassa-nya walaupun ditanam di pematang, di talud, di lereng-lereng bukit terjal. Rumput-rumput itu sama sekali tidak mengeluh walau ditempatkan di pinggir, diabaikan dan dikalahkan oleh tanaman budidaya, bukankah sebagai makhluk hidup mereka mempunyai hak yang sama untuk tumbuh?

Sahabat, bagaimana dengan kita, bagaimana saat kita dipinggirkan oleh orang-orang yang ada disekitar kita, bagaimana ketika kita diabaikan orang lain baik itu dilingkungan kerja, dilingkungan pergaulan, ataupun di lingkungan sosial lainnya? Saya berani menjamin, ketika kita diabaikan, yang ada adalah kesedihan, mengutuk orang lain, mengeluarkan sumpah serapah, sampai mengungkapkan keinginan untuk membalas perbuatan orang-orang

Sahabat, ada baiknya kita belajar dari rumput-rumput diatas, mereka juga terpinggirkan, akan tetapi mereka tak berkurang sedikitpun gairah untuk tetap tumbuh, jadikan perasaan terpinggirkan dan terabaikan menjadi tantangan buat kita untuk merajut benang-benang lembut kehidupan menjadi sebuah kekuatan yang bukan tidak mungkin suatu saat menjadi penopang bagi mereka yang berada dipusat kekuasaan? SIAPA TAHU KAN??

Leave a Reply