(Mohon Maaf kalau sudah pernah membaca tulisan saya yang ini)
Dalam hidup sehari-hari .. kita tak jarang melihat orang saling melempar kesalahan, kebusukan orang demi kepentingan satu pihak, dan pihak yang merasa dikalahkan juga kadang melempar kebusukan orang lain dengan alasan pencemaran, menginjak-injak harga diri dan sebagainya. Ini terjadi dibanyak kalangan, lingkungan rumah kita, pejabat, selebritis, atau.. mungkin yang tidak sempat di ekspose adalah di lingkungan kerja, sekolah, atau dalam organisasi. Sepertinya hal ini sudah menjadi santapan sehari-hari, dan untuk menjadi pribadi yang menawan, dan dipandang oleh khalayak, kita harus menyikapinya dengan arif, bukan harus membalas dengan hal yang sama. berikut ini kisah 2 ekor sapi yang mungkin bisa jadi bahan renungan kita semua….
Sapi pertama bernama BOGI sapi besar dan gagah yang dibeli ayah dari hasil pensiunnya, sedang sapi kedua bernama UCIL karena baru berumur delapan bulan dan waktu foto2 ini diambil baru 3 minggu menjadi bagian keluargaku (Kedua sapi tersebut sekarang sudah tak ada lagi, dipelihara petani lain, atau mungkin sudah jadi daging, hehe).
Suatu pagi, Bogi merasa iri pada si Ucil karena Ucil diberi jatah makan yang lebih banyak dan dia tidak dibawa kesawah untuk bekerja. ketika Bogi pulang dan dia diikat di tempat dia biasa berjemur, Bogi berdiri, dan mengarahkan pantatnya kearah Ucil, ketika Ucil sedang duduk santai sambil memamah biak, Bogi pun merasakan adanya HABAB (hasrat akan buang air besar). Karena kesal merasa perhatian sang majikan terbagi untuk si ucil, bogi tidak beringsut dan jatuhlah kotoran itu ke tubuh Ucil….
Suatu pagi, Bogi merasa iri pada si Ucil karena Ucil diberi jatah makan yang lebih banyak dan dia tidak dibawa kesawah untuk bekerja. ketika Bogi pulang dan dia diikat di tempat dia biasa berjemur, Bogi berdiri, dan mengarahkan pantatnya kearah Ucil, ketika Ucil sedang duduk santai sambil memamah biak, Bogi pun merasakan adanya HABAB (hasrat akan buang air besar). Karena kesal merasa perhatian sang majikan terbagi untuk si ucil, bogi tidak beringsut dan jatuhlah kotoran itu ke tubuh Ucil….
UCIL : ” Payah… Bogi rupanya tidak merasa kalau kotorannya jatuh di badanku”Tapi Bogi pura-pura tidak tahu, dan dia kembali duduk seolah-tidak terjadi apa-apa.
Setelah duduk berapa lama, Bogi akhirnya berkata…
Bogi, ” Rasain kamu, emang enak jadi sapi manja, udah ambil jatahku, eh.. kagak dapat jatah kerjaan pula”.
Ucil yang sedari tadi cuma diam saja akhirnya merasa panas hati, dan kemudian dia berdiri, serta mengarahkan pantatnya ke tubuh Bogi yang sedang duduk sambil berharap dia dapat membalas seperti apa yang dilakukan Bogi 

Rupanya tubuh ucil tidak mampu menjangkau tubuh bogi karena badannya yang masih terlalu kecil, dan Bogi yang sepertinya sudah mengantisipasi kemungkinan pembalasan dengan duduk berlawanan arah dengan keberadaan Ucil.
PEMBACA YANG BUDIMAN,Jika binatang yang tidak berakal saja mempunyai perasaan berbalas-balasan melemparkan sesuatu yang busuk dan tidak pada tempatnya ( dalam hal ini disimbolkan dengan kotoran), dan manusia yang berakal juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan sapi.. lalu apa bedanya MANUSIA dengan sapi???SEMOGA ADA HIKMAHNYA..
Filed under: Sapi, Tulisan Lama, pelajaran hidup









[...] ketok. Tak usili tak delokke wae kuwi dengkul (lumayan sich putih, ning jih luwih putih lan mulus sapine bapake tuti). Jebul kuwi wong rumangsa nek dideloki njur nyoba nutup2i aurate. Dasar usil yo tak kandane ceweq [...]