Cakil yang Memesona

Akhir-akhir ini, setelah setahun di Rantau ( 9 september ini tepat 1 tahun saya berada di Makassar) saya sangat tergila-gila pada wayang dan kesenian Jawa, saya serasa berada dikampung halaman kalau mendengarkan gamelan jawa.sampai saya meminta teman YM yang ada di Jogja mengirimkan MP3 Musik Jawa, nyari gambar – gambar tokoh wayang di internet. Tapi sampai hari ini tokoh yang menjadi obsesi saya adalah Cakil, tetapi bukan karena untuk menyamakan gigi gingsul saya dengan gigi si raksasa kriting itu lho.

Sebuah folosofi hidup pernah saya terima dari guru saya semasa kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian UGM yang berkaitan tokoh ini dan semakin hari semakin banyak peristiwa yang mengingatkan saya pada tokoh ini.

Ketika saya mengalami sandungan-sandungan, Pak Sigit Supadmo Arif membawa saya dan seorang kawan saya yang mempunyai permasalahan yang sama dengan saya keruangannya, beberapa wejangan saya peroleh dari beliau dan (Alm) Prof Darmadi, sampai beberapa saat berikutnya Pak Sigit mengambil sesuatu yang berada diatas almarinya, sebuah benda dari kayu berwarna putih, dan itu adalah topeng Cakil, beliau mengatakan beliau menyimpan topeng itu (dulu dipasang di pintu ruang kerja beliau) dengan alasan karena Cakil mewakili sifat angkara murka dan serakahnya manusia, namun sehebat apapun cakil dalam setiap peperangan selalu kalah. Watak yang diwakili oleh tokoh cakil ini muncul dalam diri manusia dimanapun, diinstitusi manapun, dinegara manapun. Selama masih ada interest seseorang akan materi, kedudukan dan symbol-simbol keduniawian yang diinginkannya kita akan menemui manusia dengan watak cakil. Kita harus mengantisipasi kemunculannya dengan menetapkan hati untuk tetap berada di jalan yang benar dengan disertai keyakinan bahwa kebaikan akan selalu mengalahkan segala bentuk kejahatan, begitulah kira-kira pesan Pak Sigit waktu itu.

Cakil atau nama lainnya Gendirpenjalin adalah raksasa yang hanya ada dalam cetira wayang Jawa. Cakil ini selalu muncul ketika prang kembang atau perang antara ksatria dengan para raksasa. dalam cerita, cakil ini adalah raksasa yang bergigi tonggos, pemberani, tangkas, trengginas, dan pandai bicara namun mempunyai watak kejam,serakah dan mementingkan kata hatinya dan mau menang sendiri. Sepanjang hidupnya dia berada dihutan dengan kegiatan utama membuat keonaran dan merusak ketentraman brahmana di pertapaan.

Tokoh satu ini ditakdirkan mati dalam setiap peperangan, ini dimaksudkan untuk menyampaikan pesan bahwa angkara murka dimuka bumi ini akan selalu kalah melawan kebaikan atau dengan kata lain : SELAMA MASIH ADA KEBAIKAN DIMUKA BUMI, MAKA SEHEBAT APAPUN KEJAHATAN YANG DILAKUKAN ORANG PASTI AKAN SELALU KALAH.

Leave a Reply