“ Integrity without knowledges is weak and useless, and knowledge without integrity is dangerous and dreadfull”
(Samuel Jhonson 1709-1784)
Ungkapan Jhonson diatas memang benar adanya. Dalam kehidupan masyarakat dewasa ini sering kita dengar cibiran sinis akibat ketiadaan integritas dalam diri seorang individu baik sebagai pribadi maupun sebagai komponen dalam sebuah sistem/organisasi. Simak saja ungkapan ini “ Sistemnya sih bagus, tapi manusianya yang tidak baik”, dan lagi-lagi manusia yang menjadi fokus pengamatan dalam sebuah sistem, karena manusia yang membuat dan menjalankan sistem itu sendiri. Sistem yang dibuat sebaik apapun, dengan personel yang mempunyai tingkat intelektualitas tinggi, tetapi tanpa adanya manusia yang mempunyai integritas, tak akan pernah bisa menjadi sistem yang ideal.
Apakah integritas itu?
Dalam Kamus Oxford integritas dipadankan dengan kejujuran (honesty) dan kebaikan (goodness). Namun kejujuran, dan kebaikan tidak cukup untuk mengartikan integritas. Secara lebih terinci, integritas diartikan sebagai kesatuan keyakinan, ucapan-ucapan (janji-janji), keberanian dan sikap yang bertanggung jawab yang seiring dengan berjalannya waktu, jika dilakukan dengan disiplin dan konsisten akan menjadi pilar-pilar manusia dalam membangun pribadi yang positif dan berkarakter.
Secara umum integritas ini ada dalam diri orang-orang yang Istiqomah, yaitu orang-orang yang berpendirian teguh serta mempunyai komitmen tinggi dalam mencapai kesuksesan, dan kesuksesan yang sejati hanya dimiliki mereka yang istiqomah hingga kematian menjemputnya.
Mengapa manusia harus memiliki integritas?
Integritas mutlak dimiliki oleh seseorang baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari sebuah organisasi, karena cita-cita yang besar, mulia untuk mengembangkan diri dan organisasi dimana dia berada didalamnya hanya akan terwujud jika SDM yang ada bersifat proaktif, bergairah, dan mempunyai integritas yang tinggi untuk melakukan hal-hal terbaik bagi pribadinya, orang lain dan masyarakat.
Sebagai makhluk individu dan bagian organisasi, manusia dipastikan memiliki janji-janji, baik janji untuk dirinya sendiri, maupun janji yang diucapkan ketika dia mulai memasuki sebuah organisasi, semua harus dipenuhi meskipun sebenarnya janji-janji tersebut pada umumnya merupakan sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan. Tetapi sesulit apapun, jika dilaksanakan dengan rutin dan iklas akan menghasilkan kesuksesan baik kesuksesan duniawi (buah dari kontinuitas dalam memenuhi janji) maupun kesuksesan akhirat (buah dari keiklasan).
Perlu kesadaran pribadi
Pada kenyataannya, antara satu manusia dengan manusia lainnya mempunyai kadar integritas yang berbeda-beda tergantung pada tinggi rendahnya moralitas seseorang. Apabila seorang manusia mempunyai moralitas yang rendah, bisa dipastikan kurang/tidak mempunyai integritas. Ketiadaan atau kurangnya integritas ini bisa jadi merupakan akibat hancurnya prinsip, pondasi keyakinan, rendahnya pemahaman akan nilai-nilai agama atau kurangnya kematangan emosi.
Seseorang yang mempunyai integritas yang rendah, biasanya tidak segan-segan menjual harga diri hanya untuk sesuatu yang sepele sifatnya. Sebaliknya orang yang mempunyai integritas yang tinggi, terlebih lagi yang muncul dari hati nuraninya, biasanya akan mencapai puncak kesuksesan dalam waktu yang tidak terlalu lama dan mencapai kepuasan dan ketentraman sebagai individu. Orang-orang seperti ini jika berbicara mengenai kebaikan, maka ia akan melihat pada orang-orang yang lebih baik, jika berbicara penderitaan, maka ia akan melihat kebawah kepada orang-orang yang lebih menderita, dan jika berbicara tentang kesuksesan, maka ia akan merasa iri dengan mereka-mereka yang iklas dalam kondisi kaya namun dermawan, pandai, mau mengajar, serta konsisten dengan kesalihanya.
Sebuah organisasi, demi mencapai tujuannya, tak jarang melakukan ”pemaksaan-pemaksaan” agar individu-individu yang didalamnya mempunyai integritas tinggi, pemaksaan seperti ini memang pada awalnya bisa memberi dampak positif dalam mencapai tujuan organisasi, tetapi untuk jangka waktu yang lama, pemaksaan integritas ini tidak lagi efektif, karena bagaimanapun, segala sesuatu yang dipaksakan, hasilnya akan semakin merosot. Untuk itu, integritas yang tinggi itu akan terwujud melalui kesadaran pribadi, bukan melalui pemaksaan dan ada baiknya masing-masing orang mewujudkannya dengan 3M seperti yang didengungkan oleh da’i kondang AA Gym… MULAI DARI DIRI SENDIRI, MULAI SAAT INI , MULAI DARI YANG KECIL.
Filed under: Integritas, Karir, Profesionalisme, pelajaran hidup









Persepsi saya yang lain,
Integritas yang sekarang ini adalah integritas yang dikonstruksi oleh pemilik moda, pemerintah, dan media.
Kalo kata (censored) alienasi