Tentang kejujuran

Awal Juli 2009 lalu merupakan perjalanan darat terpanjang saya selama berada di Sulawesi Selatan. Bila sebelumnya setiap kali harus melakukan perjalanan saya tinggal terima beres dan berangkat tanpa harus pusing dengan ongkos dan transportasinnya, kali ini saya mengurus mulai dari kendaraan yang akan saya tumpangi, memesan tiket bus, booking kamar hotel, hingga urusan-urusan lainnya.

Tujuan perjalanan saya adalah Tomoni, kota kecamatan 500 km arah timur laut dari kota Makassar. Sekilas tentang Tomoni, adalah sebuah kota kecil yang hampir seluruh penduduknya adalah transmigran dari Pulau Jawa dan Bali. Perjalanan dan kerja yang harus selesai dalam lima hari berjalan dengan lancar. Bahkan, boleh dibilang sangat lancar dan suasana hati serasa berada di kampung halaman. Mulai dari makanan, bahasa sehari-hari, hingga suasana kota membuat saya dan teman saya sangat betah.

Kehidupan di tengah-tengah transmigran yang sedari awal memang berniat merantau untuk kehidupan yang lebih baik di tempat yang baru—tanpa mengorbankan kejujuran dan sikap kerja keras—merupakan pelajaran baru yang harus saya terima tanpa harus ada yang bertindak sebagai guru dan murid. Semua jelas terpampang di depan mata. Nuansa kerja keras tampak sekali di kota ini, yang terus bertumbuh untuk sejajar dengan kota lain seperti Makassar.

Satu pelajaran berharga yang menjadi kenangan terdalam saya atas Tomoni adalah ketika saya harus check out dari hotel dan membayar seluruh biaya kamar selama empat malam. Resepsionis hotel—setelah menerima seluruh pembayaran saya—kemudian menanyakan pada saya, “Mbak, mau ditulis berapa biayanya di dalam nota hotel?”

Dengan nada bingung saya balik bertanya padanya, “Lho, memangnya kenapa Mbak? Ada yang harus saya bayar lagi?”

”Tidak Mbak. Sering kok ada pengunjung hotel yang minta jumlah uang yang ditertulis di nota lebih besar daripada yang ia bayarkan,”jelasnya dengan sedikit canggung.

Saya tersenyum dan dengan bercanda saya timpali kata-katanya, ”Memangnya Mbak mau saya suruh bohong?” Dan, wanita cantik itu hanya tersenyum. ”Sudahlah Mbak, tulis apa adanya saja.”

Saya jadi miris…. Rupanya budaya mark up menjangkau juga di kota kecil seperti Tomoni. Dan, bisa dipastikan mereka yang secara sadar maupun tidak mengajarkan budaya tersebut—dan budaya sejenis demi sedikit keuntungan rata-rata—adalah orang yang melek huruf, mengetahui peraturan, dan bekerja di sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Ada sebersit perasaan malu dengan hal tersebut, terlebih setelah peristiwa di hotel itu terus berputar-putar di kepala saya. Ini adalah peristiwa aneh pertama yang menguji saya.

Ketika saya masih bekerja di kampus, setiap kali harus melakukan praktik atau mengunjungi lokasi penelitian, berapa uang yang saya keluarkan itulah yang saya laporkan untuk mendapatkan penggantian. Bahkan, saya sangat mengagumi seorang profesor dari Universitas Tsukuba yang kebetulan datang ke kampus. Sewaktu kami mengantar dia mengunjungi Borobudur, dia menolak tiket yang kami bayarkan untuknya. Dia berkata bahwa dirinya sudah dibekali uang yang cukup untuk segala keperluannya.

Saya hanya bisa berkutat dengan pikiran saya dan membanding-bandingkan kondisi nyata yang saya hadapi dengan kondisi ideal yang ditanamkan oleh guru-guru saya dan orang tua saya. Akhirnya, perjalanan pulang dari Tomoni ke Makassar dihiasi percakapan saya dengan teman saya tentang itung-itungan berapa harga yang kra-kira dapat kami peroleh seandainya kami melakukan manipulasi kuitansi. Dan, kami sampai pada angka Rp 400.000 dibagi kami berdua berarti Rp 200.000.

”Hah… harga sebuah kejujuran di negeri ini rendah banget, Rp 200.000?”

Dan, kami pun saling berpandangan dan tergelak bersama-sama sambil membayangkan betapa tololnya kami bila sampai melakukan hal itu.

Satu jam setelah saya meninggalkan Tomoni, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Entah ini kebetulan atau buah kekuatan batin ayah dan anak. Hal yang diungkapkan oleh ayah saya adalah tentang kejujuran dan ketulusan orang-orang yang bersamanya membesarkan kelompok petani yang sedang dirintisnya. Kejujuran yang kecil telah mengikat hampir 90 orang untuk maju bersama, dan manfaatnya cukup banyak. Bahkan, keluarga kami cukup merasakannya. Dalam perkataannya di telepon, ada sedikit pesan moral dari Ayah bahwa kejujuran kecil, dibarengi dengan ketulusan kecil, itu menjadi tak terbilang harganya dan nikmat rasanya. Ah… seandainya saya melakukan kecurangan di nota hotel… betapa sakitnya saya ”ditampar” oleh kata-kata ayah saya.

Sahabat, sepertinya ini terdengar klise jika seseorang mengatakan tentang kejujuran di tengah persaingan di mana banyak orang melaukan segala cara untuk meraih yang diinginkan. Hem… kalau sudah begini kita bisa melakukan apa untuk menegakkan kejujuran?

Cukup bayangkan saja uang Rp 200.000, bahkan kurang, yang sanggup membeli kejujuran kita. Dengan begitu kecilnya harga sebuah kejujuran, apakah kita akan melepaskannya? Perlu disadari, tanpa harus mengorbankan kejujuran pun, kita sebagai manusia yang dibekali akal, pasti dapat memperoleh rezeki yang lebih baik. Akhirnya, kita cukup membentengi diri dan tak ada salahnya jika mencamkan pepatah yang mengatakan meski zaman dimakan usia. Jujur tetap jujur yang tak lapuk ditelan masa meski erosi moral mewabah di seluruh negeri.[sba]

Maafkan Aku

hari ini aku janjian sama Yudhistemon untuk Online bareng… tapi ketika tiba waktunya.. Temon justru sedang sibuk.

” Nda.. tak bisa Online, kalau mallam gimana?”
aufff… malam.. aku mungkin tidur, dan Temon harus kerumah pakdhe untuk tahlilan.
kadang perasaan ingin marah itu muncul… tapi apa hakku memarahi Temon yang nyata2 bekerja keras, membagi waktu untuk liputan, meng-edit berita tiap sore dan menemui kawan-kawannya dan menemui ibu yang tengah sakit dan mengupayakan pengobatannya

sebenarnya sering aku merasa bersalah pada Temon… dia begitu bekerja keras, sangat ketat mengatur waktunya, tetapi masih sempat menyisihkan sedikit waktunya untuk sekedar menelponku setiap hari, menceritakan apa yang terjadi dalam sehari… tapi apa yang kulakukan??
banyak waktuku yang tersia2
aku begitu menghamburkan waktu yang ada untuk hal-hal yang tak berguna, sekedar bermain-main, waktu di kantor pun akhir-akhir ini tidak optimal, proyek2 pribadi banyak yang terbengkalai. aku sepertinya terlena dengan apa yang ada… kenerjaku benar-benar drop entah apa penyebabnya .. aku sendiri tentu saja.. aku tak mungkin menyalahkan sepenuhnya lingkunganku.. juga orang2 disekitarku.


Gagal online hari ini sekedar untuk melihat wajah Temon dan keluarga di jawa cukup untuk menyentil kupingku, mengetuk hatiku.. apa yang kulakukan akhir2 ini tak lebih sekedar menghambur-hamburkan waktu yang ada, tak sedikitpun berupaya mengoptimalkan apa yang kupunya…
makasih Temon.. mengingatkanku walau tak terucap…maafkan aku yang tak bersungguh-sungguh menjalani hidupku
aku berjanji akan berubah.. demi diriku, dirimu serta semua yang kita sayangi

EKSPLORASI KARAKTER SEMAR DAN HARAPAN PEMIMPIN BARU INDONESIA

Kegilaan saya pada tokoh Semar yang menurut saya lucu, unik dan simbolisasi kesahajaan hidup sudah bukan menjadi rahasia bagi orang-orang disekitar saya. Minggu ini seorang teman menyodorkan artikel mengenai eksplorasi karakter Semar dalam karya keramik F. Widayanto dan tulisan Budayawan Sindhunata yang dibacakan dalam pembukaan pameran keramik F. Widayanto baru-baru ini. Rupanya setiap ada Semar, dia selalu mengingat saya. Sebenarnya cukup terlambat jika membahas tokoh semar jika dikaitkan dengan pameran F. Widayanto yang bertajuk “Semarak 30 Semar”, akan tetapi saya rasa tidak terlambat jika dikaitkan dengan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 yang baru saja usai.

Semar adalah tokoh Pewayangan yang merupakan tokoh yang berjiwa pamomong (pengasuh), yakni mengasuh para kesatria dalam kisah Mahabarata dan Ramayana. Semar dengan jiwa pengasuh dimaknai sebagai melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (Tuhan) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Semar dalam bahasa Jawa disebut Badranaya (mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia). Tradisi jawa juga menyatakan bahwa semar itu berasal dari samara tidak nyata atau maya, bahkan tak jelas apakah semar itu laki-laki atau perempuan, tetapi didalam dirinya semar merupakan sosok manusia dengan karakter yang mengejawantahkan rasa ingat (eling) dan waspada.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa tokoh Semar dalam kisah pewayangan di tanah Jawa merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap batinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana (menjaga kedamaian dunia).

Terakhir, tampilan fisik tokoh semar adalah giginya yang tunggal dan berhiaskan batu mulia, yang mensimbolkan bahwa setiap pitutur (perkataan) Semar adalah perkataan yang sangat bermakna, sarat dengan petuah-petuah bijak.

Lalu, apa kaitan Semar dengan pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2009 ini? Baiklah sebelumnya kita simak cuplikan tembang sinom ramalan serat kalatidha karya Pujangga Ranggawarsita berikut ini :

Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara

(Artinya : Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena daya jaman Kala Bendu. Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya).

Jika dikaitkan dengan situasi negara kita saat ini, sebenarnya pemimpinnya dan orang-orang yang ada dibawahnya adalah orang-orang pilihan dan terbaik diantara putra bangsa yang lainnya, namun karena masing-masng pribadi mempunyai pemikiran, orientasi yang berbeda, bahkan seringkali teracuni oleh orientasi pribadi yang cenderung serakah, maka tak jarang terjadi kekisruhan, korupsi yang sulit dibasmi dan sebagainya.

Ramalan Ranggawarsita dalam serat kalatidha memang telah tersurat, tetapi bukan berarti harapan kita atas negeri yang damai dan sentosa harus pupus bukan? Pemerintah kita telah melaksanakan pemilihan umum baik legislatif maupun eksekutif dengan baik, sebuah gerbang harapan barupun terbuka. Rakyat sudah berusaha memilih calon-calon pemimpin yang terbaik di negeri ini.

Rasanya karakter Semar, yang merupakan karakter tokoh yang cukup dikenal dalam budaya rakyat Indonesia mampu mewakili karakter pemimpin Indonesia yang seharusnya. Rakyat tentu berharap mempunyai pemimpin yang rendah hati, bersikap melayani masyarakat tanpa pamrih, mengayomi, dan dapat dijadikan teladan bagi rakyatnya.

Karakter samar dalam diri Semar juga dapat dijadikan petunjuk bagi pemimpin baru negeri ini, dimana dalam setiap karyanya tidak perlu digembar-gemborkan dalam berbagai kesempatan dan dipamerkan melalui pidato dan orasi-orasi yang cenderung mengobral janji semu, tetapi sebaiknya entah itu karya besar maupun karya kecil yang penting bagi rakyat adalah bagaimana karya dari pemimpin negeri ini mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat dan situasi tersebut mendorong hadirnya generasi-generasi baru yang berkualitas dan bermanfaat bagi umat manusia.

Terakhir hal yang paling diharapkan rakyat atas pemimpinnya adalah adanya kesatuan kata, kesepahaman antara pemimpin tertinggi dan punggawa-punggawanya mempunyai satu kata sepakat dalam setiap peraturan yang dikeluarkan, sikap integritas yang tinggi, satunya kata dengan perbuatan seperti layaknya pitutur semar yang sangat bermanfaat dan tak pernah menimbulkan keraguan bagi siapapun yang mendengarnya. Selamat menyongsong masa depan Indonesia yang baru di bawah pemerintahan yang baru, Jayalah Indonesiaku.

sumber gambar : http://sahabatgallery.files.wordpress.com/2008/12/f-widayanto-jkt.jpg

Hidup Yang Menjulang Seperti Koloni Rayap

http://www.andaluarbiasa.com/hidup-yang-menjulang-versi-koloni-rayap

Sebuah lelucon bodoh yang tidak perlu ditanggapi, begitulah kira-kira saya menganggap candaan teman baru saya waktu ebuah lelucon bodoh yang tidak perlu ditanggapi, begitulah kira-kira saya menganggap candaan teman baru saya waktu dia mendeskripsikan tentang serangan rayap di plafon rumahnya hampir tiga tahun yang lalu. Pada waktu itu saya masih dengan segala kesombongan sebagai seseorang yang baru saja keluar dari dunia kampus. Dan kemudian, saya masuk ke lingkungan yang jauh, yang bagi sebagian orang masih dianggap kalah dengan lingkungan di mana saya berasal.

Jika mengingat kesombongan itu rasanya saya malu pada diri sendiri. Terlebih yang menjadi bahan candaan yang saya remehkan itu adalah sekelompok rayap, makhluk ciptaan Tuhan yang meskipun remeh mempunyai keunikan yang menakjubkan, dan akhirnya menjadi “guru” dalam perajalanan saya hingga saat ini. Kala itu, saya menyangkal realita yang disampaikan teman saya. Mana mungkin rayap bisa menjangkau plafon? Sebuah kemustahilan menurut saya. Hal yang terpatri di kepala saya adalah bahwa rayap menggerogoti kayu mulai dari tempat yang paling dekat dengan tanah, kayu yang menempel tanah, atau kayu yang tumbang dan dibiarkan dalam waktu yang lama menyentuh tanah yang lembab.

Beberapa bulan kemudian, ketika saya mulai mengamati alur-alur aneh yang memenuhi dinding di sebuah rumah kosong, saya perhatikan dan saya korek-korek alur tersebut. Dan, ternyata alur-alur itu adalah alur-alur kecil yang dibuat koloni rayap untuk melindungi rayap dari panasnya udara alam Sulawesi, dan menjangkau tempat teduh nun jauh di atas plafon untuk menggerogoti kayu yang ada di situ. Sampai di sini saya mulai mengamati perbedaan koloni rayap di sebagian Pulau Jawa yang tanahnya subur di mana rayap membentuk alur-alur atau lorong-lorong pelindung rayap dalam ukuran besar dan rapuh. Sementara, rayap yang ada di Sulawesi lorong-lorong yang dibuat itu adalah untuk menjangkau sumber makanan yang sangat kuat, padat, dan sulit untuk dihancurkan. Proses belajar tentang rayap ternyata tak cukup sampai di sini.

Sebuah realitas yang menakjubkan yang benar-benar menghancurkan kesombongan akan kepintaran saya yang belum seberapa terbentang di Taman Nasional Wasur, Merauke. Koloni rayap yang sepele membangun “istana” yang menjulang, kokoh, dan menakjubkan lengkap dengan lorong-lorong pelindung dari air hujan dan penghambat udara panas di tengah ganasnya alam Papua. Saya benar-benar tersentak, menjelajahi tiga daerah waktu, membawa saya menjelajahi tiga pengetahuan yang ditampilkan oleh koloni rayap. Pengetahuan itu adalah tentang kehidupan yang terus menjulang karena tempaan kehidupan.

Wilayah Jawa, dengan segala kesuburan yang dimunculkan akibat letusan berberapa gunung berapi telah mengubah tanah menjadi tanah yang banyak memberikan kemudahan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Karena dimanjakan oleh alam, rayap yang ada di tempat tersebut tak pernah menjangkau tempat-tempat yang tinggi. Lain halnya jika menelusuri kawasan Indonesia Tengah dan Timur, kerasnya alam membuat makhluk yang sepele berjuang untuk hidup dan melanjutkan kehidupan. Alam yang keras disiasati dengan membangun lorong-lorong yang menjadi “benteng” pertahanan hidup yang kokoh dan menakjubkan hanya dengan mengikatkan partikel-partikel tanah yang keras dan rumput kering. Tuhan selalu menyiratkan kearifan dalam setiap ciptaannya, tak terkecuali lewat koloni-koloni rayap yang tersebar di wilayah yang karakteristiknya berbeda.

Lewat koloni rayap dari tiga daerah waktu ini kita dapat belajar bahwa tempaan alam dan kehidupan bukan satu hal untuk dipersalahkan, tetapi menjadi satu hal yang memicu kelangsungan kehidupan agar terus menjulang dan menciptakan keajaiban-keajaiban yang pantas untuk dikagumi. Bukankah hidup seharusnya merupakan perjuangan dalam melakukan petualangan hidup, dan tumbuh menjulang dengan penuh kemuliaan yang akan menyuburkan jiwa?[sba]

Optimisme adalah Separuh Kesembuhan

http://www.andaluarbiasa.com/optimisme-adalah-separuh-kesembuhan

Ketika membuat tulisan ini, saya baru saja membuka arsip yang ada di hard disk lama saya. Saya menemukan file dalam format notepad yang bersisi copy percakapan saya dengan seorang gadis lewat Yahoo Messenger beberapa tahun lalu. Gadis tersebut terpaut umur hampir enam tahun dengan saya dan baru setahun lulus SMU, putri seorang pengusaha, pandai memainkan alat musik, ceria, dan meskipun kami saling mengenal hanya lewat chatroom hubungan kami sangat dekat dari waktu ke waktu.

Satu hal yang tidak masuk logika saya tentang kehidupan gadis itu adalah pilihannya untuk tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja di sebuah perusahaan, dan tinggal jauh dari orang tuannya serta meninggalkan kemudahan yang diberikan orang tuanya.

….

Toeti_yk: “Gak pengen kuliah kamu, Dhek?”

Gadis_Manis: “Pengen sich, tetapi tak sanggup..”

Toeti_yk: “Apanya???”

Gadis_Manis: “Teteh… sebenarnya ada yang aku sembunyikan, aku menderita leukemia, aku berusaha hidup normal seperti kebanyakan orang dengan bekerja”

Toeti_yk: “Trus?”

Gadis_manis: “Kalau saja aku sehat aku akan kuliah dan memupuk bakat musikku, Teh…”

….

Seiring berjalannya waktu, dan semakin terkuak sisi kehidupan gadis tersebut, saya baru mengetahui bahwa kalau sekadar untuk mempunyai uang saku berlebih, gadis tersebut tak perlu bekerja keras dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Gaji yang dia dapatkan dari bekerja jauh lebih kecil, akan tetapi berulang kali gadis tersebut mengatakan, itulah cara dia supaya tidak dianggap orang sakit. Bagi dia, anggapan orang bahwa dirinya orang sakit yang harus ditolong justru menjadi bumerang yang menggerogoti semangatnya untuk sembuh.

Menjalani kehidupan layaknya orang normal dengan segala suka dan dukanya, tanpa pandangan hasihan akan dirinya, yang bahkan umurnya pun sudah diramalkan tak akan panjang oleh dokter, ternyata justru membawa keajaiban demi keajaiban pada diri gadis tersebut. Gadis itu masih tetap bertahan melewati waktu yang diperkirakan dokter. Ia masih tetap bekerja meskipun beberapa hari dalam sebulan harus bersembunyi dari teman-temannya karena kondisi tubuhnya tidak stabil.

Kedua keajaiban itu ternyata semakin memupuk keyakinannya bahwa dirinya mampu melewati masa-masa sulit. Emosi yang tetap terjaga tanpa ternoda rasa kasihan dari orang lain dan sikap memelas untuk mendapatkan sikap orang lain menjadi bagian terpenting jalannya menuju kesembuhan. Optimisme yang selalu dijaga dan diimbangi kepasrahannya kepada Tuhan membuatnya bersedia menjalani kemoterapi hingga beberapa bulan berikutnya. Hingga suatu ketika, gadis tersebut mengirimkan pesan singkatnya di Yahoo Messenger untuk berpamitan karena akan melanjutkan pendidikannya di Australia.

Sampai hari ini, gadis tersebut masih tetap sehat, ceria, menekuni apa yang menjadi minatnya, dan tetap memainkan musik yang menjadi hobinya. Sebentuk kekaguman pada gadis tersebut terpatri dalam hati dan ingatan saya, benar-benar keajaiban Tuhan yang ditunjukkan pada saya lewat gadis tersebut.

Kita sering kali mendapati orang, yang begitu mendapat vonis penyakit dari dokter, kemudian menjelma menjadi manusia yang cengeng, manja, dan rapuh. Ketakutan oleh bayang-bayang kematian dan membiarkan ketakutan tersebut menggerogoti semangat dan keyakinan, hingga tak sejalan dengan orang-orang sehat yang memedulikannya dan mengusahakan kesembuhannya.

Hanya orang-orang yang mempunyai optimisme yang mampu mengangkat dirinya menuju sesuatu yang hebat. Begitulah kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan kebangkitan orang-orang yang ketika didera penyakit yang mematikan, tetapi tidak lantas menjadi manusia yang rapuh.

Banyak ahli kesehatan mendapati bahwa pasien-pasien dengan sikap mental optimis mempunyai peluang lebih besar dan waktu yang diperlukan untuk menjalani perawatan lebih singkat. Sikap mental yang meyakini bahwa segala sesuatu di dunia ini serba mungkin selama dibarengi dengan keyakinan dan upaya kearah tujuan tersebut merupakan separuh dari pengobatan yang seharusnya dijalani.

Gadis yang saya ceritakan di muka rasanya cukup untuk dijadikan sebagai cerminan. Cara berpikir bahwa dirinya mampu hidup normal, telah membuat dirinya hidup dalam kehidupan normal seperti yang ia bayangkan. Meskipun, ada penggalan kehidupannya yang pernah diwarnai oleh hadirnya penyakit yang masih dianggap menakutkan dan sulit disembuhkan.

Rasanya tak ada alasan untuk menyerah pada rasa sakit, yang memang diciptakan Tuhan sebagai penebus dosa bagi yang mengalaminya. Sikap optimis dibarengi usaha untuk sembuh menjadikan penebus dosa itu benar adanya dan semoga semakin mendekatkan seseorang pada penciptanya.[sb]

Lewat dua Purnama

Hi semua,
Akhirnya bisa nge-blog kembali. Setelah kontemplasi di akhir 2008 dan bertekad memperbaiki kesalahan, berkomitmen menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, berkonsentrasi pada apa yang aku inginkan dalam hidup, melewati ujian dengan sabar dan tetap tidak membiarkan diri ini berada dibawah tekanan siapapun dan untuk kepentingan apapun.
Sebuah pelajaran berharga di permulaan 2009 ini, tatkala sikap semeleh harus melewati berbagai tantangan, ternyata tantangan itu tak ada artinya dan menjadi tidak terlalu berat untuk dihadapi, jika dihadapi dengan tetap tersenyum, tawakal dan tetap berusaha melakukan yang terbaik.
O ya ndak terasa udah 2 bulan kurang 3 hari ndak ngeblog… sudah dua purnama lebih tidak posting apapun di beranda melati putih, begitu banyak kejadian tak terduga….

The most important thing is I found my soulmate.. yup my soulmate and I hope we always be together…forever (like a song, haha)
Kehadirannya mengingatkanku tentang kata-kata ibundaku “ kita tak dapat memaksakan diri menghadirkan seseorang dan memaksakan perasaan untuk menilai positif seseorang hanya karena menginginkannya sesaat, tapi ikutlah alur, bisa jadi Tuhan menghadirkan orang yang tepat disaat tak terduga dan perasaanmu dalam kepasrahan penuh atas segala rencana-Nya”. Dan itulah yang terjadi padaku, disaat aku mencoba semeleh dan memasrahkan urusan yang satu ini pada kehendak-Nya, dan aku mencoba menjalani apa yang bisa kulakukan, Tuhan mempertemukanku dengan seseorang, seseorang yang memproklamasikan namanya persis dengan pangeran pandawa yang terkenal baik budi.. Yudistira.
Sebenarnya, tak pernah ku sangka pertemuan lewat saling ledek, usil, jahil, sampai keisengan yang melelehkan air mata menjadi pertautan indah hingga suatu ketika sebuah janji yang Insyaalah kami pegang bersamapun terucap.. sekali lagi Alhamdulillah… semoga lancar kedepannya.. Amin.
Dan sekarang, setelah dua purnama indah terlewati bersama, tak terasa beragam harap pun terbayang, sejumlah asa telah tergantungkan… semoga purnama-purnama mendatang senantiasa indah