Hidup yang Menghidupkan

Awal bulan lalu, dalam sebuah perjalanan menyusuri sebuah kawasan perbukitan dan hutan di desa Kiru-Kiru Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, pandangan mata saya tertuju pada sebatang pohon ara yang cukup rimbun menaungi jalan setapak yang saya lewati menuju bendung Cempaga. Pohon tersebut tumbuh dengan liarnya membentuk tajuk rimbun.

Karena perjalanan saya bukan untuk menuju pohon tersebut, awalnya saya hanya memerhatikan sepintas saja pohon tersebut dan saya tetap meneruskan perjalanan menuju sungai Cempaga dimana Bendung Kiru-Kiru berada.

Setelah sekian waktu saya bersama tiga puluh rekan penyuluh yang mempelajari bangunan bendung dan operasionalnya serta menyusuri sebagian kecil dari keseluruhan jaringan irigasi ditempat tersebut, lagi-lagi mata saya tertumbuk pada sebatang pohon ara yang lain yang lebih rimbun lagi, dan kali ini, kerimbunannya melebihi pohon pertama.

Setelah saya amati seksama, ternyata pohon ara tersebut sedang dipeluk oleh beringin yang rimbun.

“Hah.. ada pohon berpelukan?”, jangan membelalak dulu, ini hanya kata pilihan saya untuk mendeskripsikan keadaan si pohon ara. Saya jadi membayangkan ada burung ranggong yang memakan buah ara, ada aneka burung yang bersarang diatas pohon persis seperti di film documenter yang pernah saya lihat.

Setelah berlama-lama menikmati suasana seolah saya berada dalam film yang pernah saya lihat, entah ini sebuah kebetulan atau memang rencana Tuhan agar saya mempelajari dua tumbuhan hebat ini, didalam tas saya ada sebuah buku yang mengulas kedua pohon tersebut.

Beringin ternyata tidak sedang memeluk pohon ara, tetapi ia sedang melakukan kudeta. Seperti dikatakan buku itu, kemungkinan besar, si pohon beringin itu dulunya berasal dari tempat yang jauh, ketika ia masih berupa buah beringin, ia dibawa oleh sebangsa burung dan bijinya dijatuhkan di ketiak pohon ara, dan disitulah cerita bermula. Beringin kemudian ‘diasuh’ oleh pohon ara, ia mendapatkan sumber makanan dari pohon ara. Lama kelamaan, beringin itu tumbuh menjadi pohon yang kokoh, akarnya dan batangnya mulai membelit si pohon ara, tetapi ara tidak lantas memberikan perlawanan, ia tetap setia mengasuh beringin sampai akhir hidupnya. Setelah ara mengikhlaskan hidupnya untuk kelangsungan hidup beringin, beringinpun kemudian hidup dengan lebatnya, bertajuk rimbun dan menjadi rumah bagi aneka burung, berbuah lebat sepanjang tahun dan menjadi sumber pangan bagi aneka satwa, sungguh menakjubkan.

Hidup yang menghidupkan, atau dalam falsafah orang Minahasa ‘si tou timou tumou to” begitulah saya menggambarkan nasib si pohon Ara, dia hidup, tumbuh menjulang di hutan, dan ketika tiba waktunya, dia akan perlahan-lahan mundur demi kelangsungan hidup jenis tumbuhan yang lain yang kelak member juga manfaat kepada makhluk yang lainnya.

Pernahkah kita berpikir menjadi si pohon ara? Pernahkah kita berpikir bahwa apa saja yang kita lakukan dimuka bumi ini seharusnya adalah sesuatu yang bermanfaat bukan saja buat diri kita? Pernahkah kita berfikir bahwa waktu kita dimuka bumi ini terbatas, dan apakah kita telah menjadi sebenar-benarnya khalifah yang memakmurkan bumi? Semoga sepenggal cerita tentang pohon ara dan beringin menyadarkan kita dan kita dengan mudah menjawab semua pertanyaan itu.

Nikmatnya Ikan Bakar dan Irex dari Sinjai

Suasana kota Sinjai pada malam hari secara keseluruhan tidak terlalu ramai, hanya beberapa ruas jalan saja yang terdapat aktivitas seperti pedagang kakilima atau anak-anak muda yang berkumpul di bawah terangnya lampu kota. Dibalik damai suasana kota, ada keramaian yang luar biasa mewarnai malam di Tempat Pelelangan Ikan Lappa,  tak jauh dari pusat kota Sinjai.

Bau ikan segar menyeruak diiringi  suara hiruk pikuk pelelangan ikan muai jelas terasa ketika telah melewati pukul 21.00 WITA. Kapal nelayan mulai mendarat, puluhan pria dan wanita sibuk dengan aktivitasnya masing, mengeluarkan ikan dari kapal, menata ikan dikeranjang, menjajarkan ikan diatas lantai pelelangan dan menawarkan ikan-ikan yang tidak dapat dilelang entah karena jumlahnya yang terlalu sedikit, atau ikan yang memang jarang untuk dilelang.

Kapal nelayan yang baru tiba

Cakalang Kecil Siap Lelang

Cakalang siap lelang

Suasana pelelangan yang unik dan ikan segar yang sebagian dijual kepada pengunjung dengan harga yang relative murah membuat tempat pelelangan ikan ini menjadi tempat tujuan memeroleh ikan yang murah. Efek berantai berikutnya, disekitar tempat pelelangan terdapat beberapa warung makan yang melayani pembakaran ikan dan memasak ikan yang dibeli oleh pengunjung, dan menyediakan nasi dan pelengkap makan ikan lainnya seperti sambal dan lalapan.

Ikan yang tidak dilelang, sebanyak ini bisa dibeli dengan harga 10.000 rupiah

Kesibukan dan kenikmatan menyantap ikan langsung dari tempat pengambilannya menjadi komoditas wisata yang menarik, ini berdasatkan pengalaman saya. Selama sepanjang malam saya dan teman-teman berada disana, banyak sekali saya jumpai pengunjung dari luar Sinjai, bahkan ada orang dari Jawa yang kebetulan sedang ada urusan di Sulawesi Selatan sengaja menghabiskan malam ditempat itu sambil makan malam dengan menu ikan.

Ikan yang baru dibeli, dibawa ke warung untuk dimasak, tambah pesan nasi, sambal, lalapan dan minuman

Satu keunikan yang tidak saya temui ditempat lain adalah tersedianya minuman IREX di semua warung makan. Tetapi jangan salah, IREX disini bukan obat kuat yang di iklankan di TV. Irex  di Sinjai adalah minuman khas sinjai yang terbuat dari air tape, susu, madu, kuning telur, yang dicampur jadi satu kemudian didinginkan didalam freezer.

IREX, Minuman asli Sinjai

Menurut  Adin, teman seperjalanan saya IREX  ini dulu namanya Minas, Minuman Asli Sinjai yang sebenarnya selain bahan yang disebutkan diatas, juga ditambah rempah-rempah yang dirahasiakan… whehehehe.. apapun bahannya, yang jelas bagi saya tetep saja rasanya enak banget. Penasaran?? Ayoo.. jelajahi keindahan negeri ini.

Malu Aku Punya Negara Penuh Koruptor

Mungkin diantara pembaca sekalian pernah atau sering membaca lelucon dibawah ini :

Seorang pejabat Indonesia mengunjungi rekannya di Cina. Saat tiba, beliau dijamu, dihibur, dan kemudian diajak ke rumah megah milik sang pejabat Cina. Saat ngobrol-ngobrol, pejabat Indonesia tersebu iseng-iseng bertanya, “Wah, kamu pegawai negeri,tapi kok bisa sampai punya rumah megah begini, yah?” Sang pejabat Cina senyum-senyum lalu mengajak sang pejabat Indonesia ke dekat jendela lalu menunjuk keluar. “Kamu lihat itu jembatan besar di sebelah sana?” tanyanya. Pejabat Indonesia mengangguk. “Nah, itu sepuluh persen,” kata sang pejabat Cina sambil mengedipkan mata dan menepuk dada. Pejabat Indonesia mengangguk, mengerti bahwa 10% dana pembangunan jembatan lari ke kantong pejabat Cina ini. Minggu depannya giliran sang pejabat Cina yang mengunjungi koleganya di Indonesia. Setelah dijamu dan dihibur, sang pejabat Cina dibawa ke tempat tinggal pejabat Indonesia. Betapa terkesannya sang pejabat Cina ketika melihat tempat tinggal pejabat Indonesia yang bagaikan istana raja saja: villa megah lengkap dengan kolam, pancuran, lapangan tenis, helipad, dan lapangan golf pribadi, semua berlapis emas. “Wah, kamu juga pejabat negeri, tapi lebih hebat yah -rumah kamu seperti istana begini. Jauh lebih megah dibanding rumah saya,” komentar pejabat Cina. Sang tuan rumah mengajak tamunya ke jendela. Ia menunjuk keluar, sambil berkata, “Kamu lihat itu bendungan di sebelah sana?” Sang pejabat Cina mencari-cari ke arah tunjukkan, tapi tidak melihat adanya bendungan, “Mana, nggak ada bendungan, tuh …” Pejabat Indonesia mengedipkan mata sambil menepuk dada, “Nah, itu seratus persen….”

Dalam sebuah kegiatan bertaraf ASIA seorang teman dari sebuah negara daratan Asia menceritakan lelucon itu dengan sangat fasih dalam bahasa inggris. setela menceritakan lelucon itu kepada peserta lain termasuk saya, teman saya tersebut berkata,

” Sesungguhnya Indonesia itu cantik, indah, orang-orangnya ramah dan baik hati, tapi mengapa korupsinya juga masuk lima besar di duniaa”.

Plaaak.. rasanya saya ditampar habis muka saya.. sebuah lelucon yang saya kira hanya beredar di dalam negeri juga didengar oleh teman yang bertampat tinggal di Himalaya sana.

Korupsi telah merugikan negara, menghisap kekayaan negara untuk kepentingan pribadi, dan juga merusak nama baik negeri ini, hingga ke pelosok negeri.

Senja di Larea Rea

Larea-rea merupakan nama pelabuhan kecil di kabupaten Sinjai, kabupaten paling selatan di pulau Sulawesi. Lareang-reang bukan merupakan pelabuhan yang besar, bahkan boleh dikatakan sebagai pelabuhan yang terbengkalai.

img_0685

(Pelabuhan Larea-rea yang sepi)

Pelabuhan Larea-rea hanya dikunjungi oleh kapal-kapal kayu yang rata-rata mengangkut beras untuk dibawa ke Sumbawa dan kapal pengangkut batu besi yang akan dibawa ke Cina. Berhubung tidak dikunjungi kapal-kapal besar, pelabuhan ini tidak terlalu ramai dan pada sore hari sering dimanfaatkan orang untuk menikmati segarnya angin laut sambil menanti mentari tenggelam diperaduan.

img_0688

(Satu-satuna kapal yang bersandar saat saya datang)

img_0686

(Mentari jingga di Larea-Rea)

Walaupun Larea-rea sepi dari kapal yang bersandar, ada pesona lain dari pelabuhan kecil ini, yaitu hutan bakau yang sedang dalam tahap pengembangan. Memang pemerintah kabupaten Sinjai sangat konsen dalam penanaman bakau untuk menanggulangi abrasi air laut. Hutan bakau di Larea-rea ada yang sudah berkembang dan rapat, ada pula yang baru saja ditanam.

img_0679img_0693

img_0682img_0694

Kalau saja saya boleh memilih, lebih baik larea-rea menjadi hutan bakau yang indah daripada menjadi pelabuhan sepi.. :)

Blacky… selamat jalan

sebenarnya aku bukan penggemar anjing sejati, aku cuma suka apa yang aku miliki, termasuk pada Blacky dan Luis.. aku suka melihat polah blacky dengan tubuh gemuknya  dan luis dengan bulu tebal dan roman muka yang lucu

Ada kecelakaan kecil saat blacky menuruti rasa penasarannya dan berlari-lari keluar dari kebun belakang, naas baginya, ada seseorang menginginkan dagingnya untuk disantap pada perayaan tahun baru.

Aku bukan Mas Puput yang harus berguling-guling di tanah ketika Bido dan anak-anaknya terpaksa ditembak secara brutal, aku juga bukan haryo yang menjadikan anjing sebagai kesayangan. tetapi dengan apa yang dilakukan Blacky yang sangat tertib buang air besar pada tempat yang disediakan, blacky yang selalu ngambeg kalau kandangnya kotor dan blacky yang selalu berteriak ketika ada yang mencurigakan di kandang sapi, rasanya aku tak rela Blacky yang baru berumur beberapa bulan mati dengan cara seperti itu… dan oleh tetanggaku sendiri.

Andai orang itu bilang terus terang butuh daging untuk disantap, akan aku berikan sejumlah uang untuk membeli daging yang halal, karena ybs juga beragama islam (setidaknya dalam KTP nya) .

Selamat Jalan Blacky.. sabarlah engkau disana… dirimu juga makhluk tuhan, semoga engkau iklas.. cara kematianmu adalah cara yang indah agar kau lebih cepat kembali kepada penciptamu karena Ia menyayangmu

Pohon Rindang

” Jadikan dirimu bagai pohon rindang yang menjadi tempat berteduh orang, bukan sebagai pohon yang kering tempat pungguk melepas rindu dan hanya layak dijadikan kayu bakar”.

Udara pagi terasa hangat ketika bus Jogja-Semarang yang aku tumpangi mulai memasuki Terminal Tidar Magelang Sebagian besar penumpang yang sejak tadi memenuhi bus turun dan beralih ke angkot-angkot yang menuju beberapa jurusan di seputaran kota Magelang untuk bekerja, ada guru, tentara, pekerja toko, pegawai pemda, dan lainnya. Ketika bus telah terparkir di tempatnya, sopir memberitahu kalau bus akan berangkat 1/2 jam lagi, bagi yang menginginkan sarapan, dipersilahkan untuk turun dan menuju warung-warung makan yang ada dilingkungan terminal.
Aku hanya duduk di dalam bis,duduk dibangku belakang, asyik membaca koran pagi. Tiba-tiba seorang tukang sapu berseragam biru masuk kedalam bus dan menyapu bagian dalam bus dari arah depan kebelakang. ketika si bapak sampai didekat bangku tempat aku duduk, bapak tersebut berkata ” Nak, Uangnya jatuh ya?”
“ah, rasanya tidak ada pak, mungkin milik pemumpang yang sudah turun duluan tadi” jawabku sambil melipat koran yang aku baca.
” Tapi kok banyak sekali nak,.. tidak seperti biasanya?” sahut si Bapak sambil memungut kepingan-kepingan uang yang bercampur dengan sampah yang disapunya. ” Ini.. ada hampir dua ribu rupiah”, Imbuhnya
” lah.. memang biasanya berapa pak?” tanyaku keheranan.
” yo.. kalau cuma 200 atau 300 perak sih biasa nak”.
” ya, mungkin hari ini banyak orang yang lalai pak, jadi banyak uang yang jatuh”, jawabku sekenannya.
” benar juga Nak, dan mungkin ini jadi rejeki anak2″
” Loh “, aku melongo
” iya Nak, Uang dari bus-bus yang bapak sapu, bapak kumpulkan, biasanya ada pengamen kecil yang mendatangi bapak disore hari, ya bapak berikan saja”.
“Lah.. tapi khan limayan buat bapak sendiri?”
” tidak Nak, bapak sudah dibayar oleh pengelola terminal ini kok” jawabnya sambil memasukkan sampah ke cikrak.
” Mari Nak”, ucapnya, sambil keluar dari bis lewat pintu belakang
Ah, bapak itu, meskipun hanya tukang sapu, dengan penghasilan yang seberapa, masih sempat juga memikirkan orang lain.
aku hanya bisa mengernyitkan kening, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, ternyata bantuan, uluran tangan, belas kasihan, itu milik semua orang, tidak memandang siapa dan sebagai apa dia, bahkan orang yang sepertinya hanya melakukan pekerjaan sepele seperti tukang sapu tadi, tetapi mempunyai kepekaan sosial yang besar dan si bapak tukang sapu tadi telah menjadi pohon rindang yang menjadi tempat berteduh anak kecil yang selalu ditemuinya di terminal.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.