Blacky… selamat jalan

2010 Januari 12
oleh toeti

sebenarnya aku bukan penggemar anjing sejati, aku cuma suka apa yang aku miliki, termasuk pada Blacky dan Luis.. aku suka melihat polah blacky dengan tubuh gemuknya  dan luis dengan bulu tebal dan roman muka yang lucu

Ada kecelakaan kecil saat blacky menuruti rasa penasarannya dan berlari-lari keluar dari kebun belakang, naas baginya, ada seseorang menginginkan dagingnya untuk disantap pada perayaan tahun baru.

Aku bukan Mas Puput yang harus berguling-guling di tanah ketika Bido dan anak-anaknya terpaksa ditembak secara brutal, aku juga bukan haryo yang menjadikan anjing sebagai kesayangan. tetapi dengan apa yang dilakukan Blacky yang sangat tertib buang air besar pada tempat yang disediakan, blacky yang selalu ngambeg kalau kandangnya kotor dan blacky yang selalu berteriak ketika ada yang mencurigakan di kandang sapi, rasanya aku tak rela Blacky yang baru berumur beberapa bulan mati dengan cara seperti itu… dan oleh tetanggaku sendiri.

Andai orang itu bilang terus terang butuh daging untuk disantap, akan aku berikan sejumlah uang untuk membeli daging yang halal, karena ybs juga beragama islam (setidaknya dalam KTP nya) .

Selamat Jalan Blacky.. sabarlah engkau disana… dirimu juga makhluk tuhan, semoga engkau iklas.. cara kematianmu adalah cara yang indah agar kau lebih cepat kembali kepada penciptamu karena Ia menyayangmu

Pohon Rindang

2010 Januari 11
oleh toeti

” Jadikan dirimu bagai pohon rindang yang menjadi tempat berteduh orang, bukan sebagai pohon yang kering tempat pungguk melepas rindu dan hanya layak dijadikan kayu bakar”.

Udara pagi terasa hangat ketika bus Jogja-Semarang yang aku tumpangi mulai memasuki Terminal Tidar Magelang Sebagian besar penumpang yang sejak tadi memenuhi bus turun dan beralih ke angkot-angkot yang menuju beberapa jurusan di seputaran kota Magelang untuk bekerja, ada guru, tentara, pekerja toko, pegawai pemda, dan lainnya. Ketika bus telah terparkir di tempatnya, sopir memberitahu kalau bus akan berangkat 1/2 jam lagi, bagi yang menginginkan sarapan, dipersilahkan untuk turun dan menuju warung-warung makan yang ada dilingkungan terminal.
Aku hanya duduk di dalam bis,duduk dibangku belakang, asyik membaca koran pagi. Tiba-tiba seorang tukang sapu berseragam biru masuk kedalam bus dan menyapu bagian dalam bus dari arah depan kebelakang. ketika si bapak sampai didekat bangku tempat aku duduk, bapak tersebut berkata ” Nak, Uangnya jatuh ya?”
“ah, rasanya tidak ada pak, mungkin milik pemumpang yang sudah turun duluan tadi” jawabku sambil melipat koran yang aku baca.
” Tapi kok banyak sekali nak,.. tidak seperti biasanya?” sahut si Bapak sambil memungut kepingan-kepingan uang yang bercampur dengan sampah yang disapunya. ” Ini.. ada hampir dua ribu rupiah”, Imbuhnya
” lah.. memang biasanya berapa pak?” tanyaku keheranan.
” yo.. kalau cuma 200 atau 300 perak sih biasa nak”.
” ya, mungkin hari ini banyak orang yang lalai pak, jadi banyak uang yang jatuh”, jawabku sekenannya.
” benar juga Nak, dan mungkin ini jadi rejeki anak2″
” Loh “, aku melongo
” iya Nak, Uang dari bus-bus yang bapak sapu, bapak kumpulkan, biasanya ada pengamen kecil yang mendatangi bapak disore hari, ya bapak berikan saja”.
“Lah.. tapi khan limayan buat bapak sendiri?”
” tidak Nak, bapak sudah dibayar oleh pengelola terminal ini kok” jawabnya sambil memasukkan sampah ke cikrak.
” Mari Nak”, ucapnya, sambil keluar dari bis lewat pintu belakang
Ah, bapak itu, meskipun hanya tukang sapu, dengan penghasilan yang seberapa, masih sempat juga memikirkan orang lain.
aku hanya bisa mengernyitkan kening, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, ternyata bantuan, uluran tangan, belas kasihan, itu milik semua orang, tidak memandang siapa dan sebagai apa dia, bahkan orang yang sepertinya hanya melakukan pekerjaan sepele seperti tukang sapu tadi, tetapi mempunyai kepekaan sosial yang besar dan si bapak tukang sapu tadi telah menjadi pohon rindang yang menjadi tempat berteduh anak kecil yang selalu ditemuinya di terminal.

Bapak Nomer 1 di Dunia

2009 Desember 28
oleh toeti

Salah satu adegan dalam 'Sang Pemimpi' yang membuat diriku nginget perjuangan bapak dulu

Wew.. setelah beberapa minggu ndak berkomunikasi dengan bapak… kerinduan semakin memuncak, kadang pengen nangis kalau malam, dan tangisku bener-bener tertumpah ketika nonton film “Sang Pemimpi”.

Adegan Bapak Ikal yang dengan sepedanya dan dengan baju satu2nya serta kesabarannya mengambil raportanaknya, penampilannya yang cool, calm ampir mirip dengan kenangan jaman SMA ku.. bapak, selalu bela-belain datang ke sekolahku saat terima rapot meskipun pihak sekolah tidak mengundangnya, bapak yang harus rela bersepeda karena itu kendaraan yang kami miliki dan bapak yang dengan sabar berbicara dengan wali kelasku tentang perkembangan sekolahku… dan hebatnya, hampir tak pernah absen selama 3 tahun 12 caturwulan..

Bapak yang hanya lulusan SMP begitu nyambung dengan guru-guru kelasku, entah harus memeras otak atau tidak, yang jelas, setiap nasehatnya sangat up to date untuk anak seumuranku.

Terimakasih Allah, kau beri aku ayah yang sanggup membawaku ke masa depan yang lebih baik dari dirinya sendiri.

catatan perjalanan: Sehari bersama pelaut tua

2009 Desember 27
oleh toeti

sumber gambar : http://www.va12.com/Tributes/rank/LoneSailorSunset.jpg

Aku terus berharap ada angin sepoi-sepoi ditengah terik matahari yang terasa menyengat. Tetapi ini Surabaya, kota yang selalu berselimut dengan asap industry yang membuatnya tak ubahnya ruang sauna super besar. Lengkap sudah penderitaan.

Walaupun panas, tetapi aku selalu merindukan kota ini, ada sepenggal kenangan yang cukup mempunyai andil dalam langkahku hingga hari ini.
Aku memasuki kota ini tepat pukul 12 siang, saat rasa lapar bercampur lelah dan kantuk karena sejak lepas subuh memulai perjalanan dari Jogjakarta. Setelah mengisi perut dengan seporsi soto ayam, dengan segera aku memasuki bis DAMRI menuju Bandara Juanda, biar berangkatnya masih lama, yang penting bisa ngadem di dalam bis.

Tak berapa lama aku dudu, pria paruh baya berpostur tinggi duduk di kursi sebelahku yang kebetulan masih kosong. Pria dengan gaya berpakaian dan penampilannya yang mencerminkan bahwa dia adalah seorang petualang.

lanjutkan membaca…….

Right Time, Place and People

2009 Desember 13
oleh toeti

Finally I reach Makassar…
Weew.. setelah 9 hari kembali ke Dunia Nyata ( maksudnya komunikasi dengan orang-orang terkasih tidak hanya melalui telpon dan internet). Meski bagi orang-orang dirumah yang sempat ngomel2, masa 9 hari itu dianggap pendek, setidaknya dibandingkan dengan masa cuti kerja Mbak Ana dan Mbak Dwi yang mencapai 5 Minggu.
Tapi waktu yang pendek itu bukan berarti nothing to do, justru, dalam waktu pendek, banyak momen-momen yang membahagiakan yang mungkin kalau ditulis ndak akan ada abisnya.
Hal yang paling membahagiakan adalah menyangkut urusan masa depan dengan Mas Yudis. hal yang tak terduga, ternyata keluarga begitu seriusnya membahas ini, dan bener-bener kaget, karena awalnya hanya akan dilaksanakan secara sederhana. Hari ketiga di Jogja bener-bener membuatku terharu (mpe meneteskan air mata), ternyata keluarga mas Yudis, diluar Bapak, dan adik2 Mas Yudis begitu welcome, keluargaku juga begitu, whaaa… serasa punya ratusan sodara yang nyambung semua kalau diajak ngomong. Sisi lain yang juga membahagiakan adalah ketika acara ‘pertemuan keluarga’ berlangsung, yang ngacarani adalah Mbah yang dulu mengajariku mengaji waktu kecil, di adalah kakek, bapak sekaligus guru yang sangat aku hormati, beliau juga memberi wejangan yang sesekali membuat orang tergelak… t
Tapi legaaaaa…. sejauh ini perencanaan dan persiapan sesuai jalurnya.. tinggal tunggu waktu.

Momen membahagiakan lainnya adalah kepulanganku bersamaan dengan kepulangan Mbak Ana, Mbak Dwi dan Joshua kecil. Akhirnya setelah 10 tahunan berpisah dengan Mbak Ana dan Mbak Dwi, bertemu kembali, bertepatan dengan momen pernikahan Mas Put. Walau pertalian darah sangat sedikit, mereka berdua menganggap aku adik, atau tepatnya pengganti adiknya, yang kalau tetap hidup seumuran denganku. Kedekatan kami di masa kecil membuat prinsip-prinsip hidup yang dianut dan keputusan-keputusan dalam hidup mempunyai kemiripan (hanya satu yang mereka lakukan tetapi tidak aku lakukan yaitu keluar dari PNS dan memilih hijrah ke negeri orang :) ).
Kemandirian mereka memang patut diacungi jempol, ketepatan dalam mengambil keputusan juga termasuk keputusan untuk menikah… weks… ya ini yang sempet menjadi pembahasan. Mereka dulu memutuskan untuk menikah saat seumuran denganku, ketika semua urusan menyangkut materi tak lgi tergantung pada orang tua. Memang agak nggak nyaman juga ketika ditanya sana-sini dan mendapat label “pratu”.. tapi sapa peduli, pernyataan atau pertanyaan yang paling tepat dalam situasi ini adalah “emang napa, mau ngasih makan aku, suami dan anakku po?”(whahaha.. senjata paling ampuh sejauh ini…)

hemm.. klop deh kalau dah gini, Tuhan telah mengatur momen-momen dalam kehidupan manusia dengan begiitu sempurnanya, Dia tahu Waktu yang tepat, Tempat yang tepat dan situasi yang tepat diantara orang-0rang yang tepat.. its very nice…

hem.. dah ah.. hari dah terang, rasanya celotehan pagi ini dah cukup, semoga moment indah, walau sesaat mampu memberikan semangat baru, dihari yang baru, dan dalam pengharapan baru.. Amin.

Tentang kejujuran

2009 Juli 29
oleh toeti

Awal Juli 2009 lalu merupakan perjalanan darat terpanjang saya selama berada di Sulawesi Selatan. Bila sebelumnya setiap kali harus melakukan perjalanan saya tinggal terima beres dan berangkat tanpa harus pusing dengan ongkos dan transportasinnya, kali ini saya mengurus mulai dari kendaraan yang akan saya tumpangi, memesan tiket bus, booking kamar hotel, hingga urusan-urusan lainnya.

Tujuan perjalanan saya adalah Tomoni, kota kecamatan 500 km arah timur laut dari kota Makassar. Sekilas tentang Tomoni, adalah sebuah kota kecil yang hampir seluruh penduduknya adalah transmigran dari Pulau Jawa dan Bali. Perjalanan dan kerja yang harus selesai dalam lima hari berjalan dengan lancar. Bahkan, boleh dibilang sangat lancar dan suasana hati serasa berada di kampung halaman. Mulai dari makanan, bahasa sehari-hari, hingga suasana kota membuat saya dan teman saya sangat betah.

read more…