Hidup Yang Menjulang Seperti Koloni Rayap

http://www.andaluarbiasa.com/hidup-yang-menjulang-versi-koloni-rayap

Sebuah lelucon bodoh yang tidak perlu ditanggapi, begitulah kira-kira saya menganggap candaan teman baru saya waktu ebuah lelucon bodoh yang tidak perlu ditanggapi, begitulah kira-kira saya menganggap candaan teman baru saya waktu dia mendeskripsikan tentang serangan rayap di plafon rumahnya hampir tiga tahun yang lalu. Pada waktu itu saya masih dengan segala kesombongan sebagai seseorang yang baru saja keluar dari dunia kampus. Dan kemudian, saya masuk ke lingkungan yang jauh, yang bagi sebagian orang masih dianggap kalah dengan lingkungan di mana saya berasal.

Jika mengingat kesombongan itu rasanya saya malu pada diri sendiri. Terlebih yang menjadi bahan candaan yang saya remehkan itu adalah sekelompok rayap, makhluk ciptaan Tuhan yang meskipun remeh mempunyai keunikan yang menakjubkan, dan akhirnya menjadi “guru” dalam perajalanan saya hingga saat ini. Kala itu, saya menyangkal realita yang disampaikan teman saya. Mana mungkin rayap bisa menjangkau plafon? Sebuah kemustahilan menurut saya. Hal yang terpatri di kepala saya adalah bahwa rayap menggerogoti kayu mulai dari tempat yang paling dekat dengan tanah, kayu yang menempel tanah, atau kayu yang tumbang dan dibiarkan dalam waktu yang lama menyentuh tanah yang lembab.

Beberapa bulan kemudian, ketika saya mulai mengamati alur-alur aneh yang memenuhi dinding di sebuah rumah kosong, saya perhatikan dan saya korek-korek alur tersebut. Dan, ternyata alur-alur itu adalah alur-alur kecil yang dibuat koloni rayap untuk melindungi rayap dari panasnya udara alam Sulawesi, dan menjangkau tempat teduh nun jauh di atas plafon untuk menggerogoti kayu yang ada di situ. Sampai di sini saya mulai mengamati perbedaan koloni rayap di sebagian Pulau Jawa yang tanahnya subur di mana rayap membentuk alur-alur atau lorong-lorong pelindung rayap dalam ukuran besar dan rapuh. Sementara, rayap yang ada di Sulawesi lorong-lorong yang dibuat itu adalah untuk menjangkau sumber makanan yang sangat kuat, padat, dan sulit untuk dihancurkan. Proses belajar tentang rayap ternyata tak cukup sampai di sini.

Sebuah realitas yang menakjubkan yang benar-benar menghancurkan kesombongan akan kepintaran saya yang belum seberapa terbentang di Taman Nasional Wasur, Merauke. Koloni rayap yang sepele membangun “istana” yang menjulang, kokoh, dan menakjubkan lengkap dengan lorong-lorong pelindung dari air hujan dan penghambat udara panas di tengah ganasnya alam Papua. Saya benar-benar tersentak, menjelajahi tiga daerah waktu, membawa saya menjelajahi tiga pengetahuan yang ditampilkan oleh koloni rayap. Pengetahuan itu adalah tentang kehidupan yang terus menjulang karena tempaan kehidupan.

Wilayah Jawa, dengan segala kesuburan yang dimunculkan akibat letusan berberapa gunung berapi telah mengubah tanah menjadi tanah yang banyak memberikan kemudahan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Karena dimanjakan oleh alam, rayap yang ada di tempat tersebut tak pernah menjangkau tempat-tempat yang tinggi. Lain halnya jika menelusuri kawasan Indonesia Tengah dan Timur, kerasnya alam membuat makhluk yang sepele berjuang untuk hidup dan melanjutkan kehidupan. Alam yang keras disiasati dengan membangun lorong-lorong yang menjadi “benteng” pertahanan hidup yang kokoh dan menakjubkan hanya dengan mengikatkan partikel-partikel tanah yang keras dan rumput kering. Tuhan selalu menyiratkan kearifan dalam setiap ciptaannya, tak terkecuali lewat koloni-koloni rayap yang tersebar di wilayah yang karakteristiknya berbeda.

Lewat koloni rayap dari tiga daerah waktu ini kita dapat belajar bahwa tempaan alam dan kehidupan bukan satu hal untuk dipersalahkan, tetapi menjadi satu hal yang memicu kelangsungan kehidupan agar terus menjulang dan menciptakan keajaiban-keajaiban yang pantas untuk dikagumi. Bukankah hidup seharusnya merupakan perjuangan dalam melakukan petualangan hidup, dan tumbuh menjulang dengan penuh kemuliaan yang akan menyuburkan jiwa?[sba]

Optimisme adalah Separuh Kesembuhan

http://www.andaluarbiasa.com/optimisme-adalah-separuh-kesembuhan

Ketika membuat tulisan ini, saya baru saja membuka arsip yang ada di hard disk lama saya. Saya menemukan file dalam format notepad yang bersisi copy percakapan saya dengan seorang gadis lewat Yahoo Messenger beberapa tahun lalu. Gadis tersebut terpaut umur hampir enam tahun dengan saya dan baru setahun lulus SMU, putri seorang pengusaha, pandai memainkan alat musik, ceria, dan meskipun kami saling mengenal hanya lewat chatroom hubungan kami sangat dekat dari waktu ke waktu.

Satu hal yang tidak masuk logika saya tentang kehidupan gadis itu adalah pilihannya untuk tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja di sebuah perusahaan, dan tinggal jauh dari orang tuannya serta meninggalkan kemudahan yang diberikan orang tuanya.

….

Toeti_yk: “Gak pengen kuliah kamu, Dhek?”

Gadis_Manis: “Pengen sich, tetapi tak sanggup..”

Toeti_yk: “Apanya???”

Gadis_Manis: “Teteh… sebenarnya ada yang aku sembunyikan, aku menderita leukemia, aku berusaha hidup normal seperti kebanyakan orang dengan bekerja”

Toeti_yk: “Trus?”

Gadis_manis: “Kalau saja aku sehat aku akan kuliah dan memupuk bakat musikku, Teh…”

….

Seiring berjalannya waktu, dan semakin terkuak sisi kehidupan gadis tersebut, saya baru mengetahui bahwa kalau sekadar untuk mempunyai uang saku berlebih, gadis tersebut tak perlu bekerja keras dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Gaji yang dia dapatkan dari bekerja jauh lebih kecil, akan tetapi berulang kali gadis tersebut mengatakan, itulah cara dia supaya tidak dianggap orang sakit. Bagi dia, anggapan orang bahwa dirinya orang sakit yang harus ditolong justru menjadi bumerang yang menggerogoti semangatnya untuk sembuh.

Menjalani kehidupan layaknya orang normal dengan segala suka dan dukanya, tanpa pandangan hasihan akan dirinya, yang bahkan umurnya pun sudah diramalkan tak akan panjang oleh dokter, ternyata justru membawa keajaiban demi keajaiban pada diri gadis tersebut. Gadis itu masih tetap bertahan melewati waktu yang diperkirakan dokter. Ia masih tetap bekerja meskipun beberapa hari dalam sebulan harus bersembunyi dari teman-temannya karena kondisi tubuhnya tidak stabil.

Kedua keajaiban itu ternyata semakin memupuk keyakinannya bahwa dirinya mampu melewati masa-masa sulit. Emosi yang tetap terjaga tanpa ternoda rasa kasihan dari orang lain dan sikap memelas untuk mendapatkan sikap orang lain menjadi bagian terpenting jalannya menuju kesembuhan. Optimisme yang selalu dijaga dan diimbangi kepasrahannya kepada Tuhan membuatnya bersedia menjalani kemoterapi hingga beberapa bulan berikutnya. Hingga suatu ketika, gadis tersebut mengirimkan pesan singkatnya di Yahoo Messenger untuk berpamitan karena akan melanjutkan pendidikannya di Australia.

Sampai hari ini, gadis tersebut masih tetap sehat, ceria, menekuni apa yang menjadi minatnya, dan tetap memainkan musik yang menjadi hobinya. Sebentuk kekaguman pada gadis tersebut terpatri dalam hati dan ingatan saya, benar-benar keajaiban Tuhan yang ditunjukkan pada saya lewat gadis tersebut.

Kita sering kali mendapati orang, yang begitu mendapat vonis penyakit dari dokter, kemudian menjelma menjadi manusia yang cengeng, manja, dan rapuh. Ketakutan oleh bayang-bayang kematian dan membiarkan ketakutan tersebut menggerogoti semangat dan keyakinan, hingga tak sejalan dengan orang-orang sehat yang memedulikannya dan mengusahakan kesembuhannya.

Hanya orang-orang yang mempunyai optimisme yang mampu mengangkat dirinya menuju sesuatu yang hebat. Begitulah kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan kebangkitan orang-orang yang ketika didera penyakit yang mematikan, tetapi tidak lantas menjadi manusia yang rapuh.

Banyak ahli kesehatan mendapati bahwa pasien-pasien dengan sikap mental optimis mempunyai peluang lebih besar dan waktu yang diperlukan untuk menjalani perawatan lebih singkat. Sikap mental yang meyakini bahwa segala sesuatu di dunia ini serba mungkin selama dibarengi dengan keyakinan dan upaya kearah tujuan tersebut merupakan separuh dari pengobatan yang seharusnya dijalani.

Gadis yang saya ceritakan di muka rasanya cukup untuk dijadikan sebagai cerminan. Cara berpikir bahwa dirinya mampu hidup normal, telah membuat dirinya hidup dalam kehidupan normal seperti yang ia bayangkan. Meskipun, ada penggalan kehidupannya yang pernah diwarnai oleh hadirnya penyakit yang masih dianggap menakutkan dan sulit disembuhkan.

Rasanya tak ada alasan untuk menyerah pada rasa sakit, yang memang diciptakan Tuhan sebagai penebus dosa bagi yang mengalaminya. Sikap optimis dibarengi usaha untuk sembuh menjadikan penebus dosa itu benar adanya dan semoga semakin mendekatkan seseorang pada penciptanya.[sb]

Lewat dua Purnama

Hi semua,
Akhirnya bisa nge-blog kembali. Setelah kontemplasi di akhir 2008 dan bertekad memperbaiki kesalahan, berkomitmen menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, berkonsentrasi pada apa yang aku inginkan dalam hidup, melewati ujian dengan sabar dan tetap tidak membiarkan diri ini berada dibawah tekanan siapapun dan untuk kepentingan apapun.
Sebuah pelajaran berharga di permulaan 2009 ini, tatkala sikap semeleh harus melewati berbagai tantangan, ternyata tantangan itu tak ada artinya dan menjadi tidak terlalu berat untuk dihadapi, jika dihadapi dengan tetap tersenyum, tawakal dan tetap berusaha melakukan yang terbaik.
O ya ndak terasa udah 2 bulan kurang 3 hari ndak ngeblog… sudah dua purnama lebih tidak posting apapun di beranda melati putih, begitu banyak kejadian tak terduga….

The most important thing is I found my soulmate.. yup my soulmate and I hope we always be together…forever (like a song, haha)
Kehadirannya mengingatkanku tentang kata-kata ibundaku “ kita tak dapat memaksakan diri menghadirkan seseorang dan memaksakan perasaan untuk menilai positif seseorang hanya karena menginginkannya sesaat, tapi ikutlah alur, bisa jadi Tuhan menghadirkan orang yang tepat disaat tak terduga dan perasaanmu dalam kepasrahan penuh atas segala rencana-Nya”. Dan itulah yang terjadi padaku, disaat aku mencoba semeleh dan memasrahkan urusan yang satu ini pada kehendak-Nya, dan aku mencoba menjalani apa yang bisa kulakukan, Tuhan mempertemukanku dengan seseorang, seseorang yang memproklamasikan namanya persis dengan pangeran pandawa yang terkenal baik budi.. Yudistira.
Sebenarnya, tak pernah ku sangka pertemuan lewat saling ledek, usil, jahil, sampai keisengan yang melelehkan air mata menjadi pertautan indah hingga suatu ketika sebuah janji yang Insyaalah kami pegang bersamapun terucap.. sekali lagi Alhamdulillah… semoga lancar kedepannya.. Amin.
Dan sekarang, setelah dua purnama indah terlewati bersama, tak terasa beragam harap pun terbayang, sejumlah asa telah tergantungkan… semoga purnama-purnama mendatang senantiasa indah

Merindukan Ibu

ssa40225

Aku benar-benar merindukan ibundaku hari ini,

semoga ia dalam keadaan baik-baik saja

semoga Allah menjaganya..

Ibu..

Kalau kau membaca tulisanku…

ini adalah pengganti ciumanku untukmu

ku ayunkan kuas… pengisi kekosongan hatiku.. saat jauh darimu

… Lekas sembuh ya… aku menyayangimu …

ORANG BERMENTAL PEMENANGLAH YANG BISA

Saya tersenyum melihat setumpuk kartu joker yang tanpa sengaja saya temukan didalam travel bag, lengkap dengan bungkusnya.. amplop coklat bekas bungkus gaji saya ketika masih bekerja di almamater saya. Kartu joker itu menyimpan banyak kenangan. Pertama, permainan kartu disebuah penginapan di kawasan Tawangmang, Karanganyar Jawa Tengah. saat membawa mahasiswa yang sedang mengikuti praktikum. Malam hari, ketika dingin mulai menyelinap, kartu itu yang membawa kehangatan tersendiri. Tak ada sekat antara dosen, mahasiswa, dan juga co-Ass. Dosen yang paling diseganipun menjadi lawan main cangkulan (permainan kartu joker dimana pemain yang kartunya paling cepat habis dialah yang menang) yang paling menyenangkan, walau sering harus mengocok kartu, dan pipi penuh dengan bedak putih yang dioleskan oleh teman-teman yang kartunya telah habis dimainkan, tak sedikitpun perasaan kecewa, apalagi marah.

Kenangan demi kenangan itu mengalir begitu saja, seiring kemanapun saya membawa kartu itu, Liburan akhir tahun di Kaliurang, sampai terakhir praktikum terakhir saya di Boyolali. Semua terasa baru kemarin terjadi.

Saya memang bukan penjudi, permainan kartu itu semata-mata hanya untuk mengisi waktu kosong, bila saya sedang sendiri, saya hanya akan menyusun kartu-kartu itu menjadi satu bentuk bangunan yang ada dalam imajinasi saya, tetapi itu terjadi lebih dari dua tahun yang lalu, saya tidak menyangka kalau kartu itu tanpa sengaja terbawa sampai tanah rantau ini. Ini sungguh sebuah kebetulan. Ketika masih di Jogja, saya tak sekalipu berani menyentuh kartu apalagi memainkan kartu dihadapan ayah. Operasi kamar juga sering dilakukan oleh ayah atau ibu, saya pikir, satu-satunya tempat aman untuk menyimpan kartu itu hanyalah travel bag yang ada diatas lemari pakaian, benda yang selalu luput dari operasi kamar.

Berbicara tentang permainan kartu, saya teringat syair lagu milik ABBA;

THE WINNER TAKE IT ALL

…………………………..

I’ve played all my cards
And that’s what you’ve done too
Nothing more to say
No more ace to play

The winner takes it all
The loser standing small
Beside the victory
That’s her destiny

……………………

Ketika saya bermain kartu bersama teman-teman saya, saya memainkan kartu yang saya punya, kalau bisa semua kartu saya mainkan dan saya akan menjadi pemenang, teman-teman juga akan melakukan hal yang sama. Mereka tak akan pernah rela bila harus mendapat giliran mengocok kartu, apalagi mencapat colekan di pipi, apalagi menjadi bahan tertawaan sebelum tidur, lucu juga menyedihkan.

Seperti itulah kehidupan, manusia ibarat pemain kartu, mereka yang bermental pemenang dan mempunyai strategi untuk menanglah yang nantinya akan memenangkan permainan kehidupan. Setumpuk kartu ditengah arena kehidupan adalah kesempatan-kesempatan yang dapat menghampiri siapa saja. Tinggal kita berfikir , bagaimana kesempatan itu dapat berguna bagi kehidupan kita.

Kehidupan adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi, Tuhan telah menggariskan kekuatan fisik dan pikiran serta kesempatan Kita tak akan mampu merayu Tuhan untuk memberikan apa yang kita inginkan, tapi kita harus mengusahakan apa yang kita inginkan dengan kekuatan pikiran dan fisik kita menjadikan kesempatan sebagai gerbang menuju apa yang kita inginkan.

Sekali terjun ke arena permainan, kita harus menyelesaikannya sampai tuntas, sampai tak ada lagi kata untuk diucapkan, dan sampai seluruh kartu kehidupan telah dimainkan, sampai waktu yang disediakan Tuhan untuk kita berada dibumi ini habis. Ingat, waktu yang tersedia berbatas, jadi ubah mental kita menjadi pemenang, hanya orang yang bermental pemenanglah yang bisa. [ESBEA]

Jangan Mencela Sebelum Mencoba

Apakah arti profesi bagi anda? Apakah anda berada di posisi yang rendah dan menganggap itu tidak berguna dan merupakan profesi yang hina dan tidak bergengsi dan membuat? Atau justru sebaliknya, anda berada di posisi yang tinggi dan anda pantas berbangga diri dengan semua itu dan profesi yang ada dibawah anda adalah profesi yang tidak ada artinya?

Ada sebuah pepatah Amerika mengatakan ”jangan pernah mencela seseorang sebelum kau berjalan sejauh 1 mil dengan sepatu mereka” mengandung makna yang dalam dan berkaitan dengan alenia diatas. Dalam hal ini, saya tidak akan menyamaratakan semua profesi, karena saya tahu, masing-masing profesi mempunyai peran sendiri dalam kehidupan ini, entah besar entah kecil orang yang menekuni sebuah profesi apapun itu tetap mempunyai kontribusi dalam kehidupan ini, mulai dari tukang cuci, tukang sampah, pemulung, terlebih lagi direktur atau presiden.

Agak janggal dan mengganjal perasaan ketika suatu pagi saya menjumpai seorang pengusaha sedang memarahi petugas cleaning service di kantornya dengan mengatakan ”apa kerjamu, jam segini belum beres semua ruangan !” Padahal sedari pagi petugas tersebut telah datang, membereskan semuanya yang ada, memang apes sedang hinggap di diri petugas tersebut. Untuk sebuah urusan mendadak, sang pengusaha datang lebih awal dari biasanya dan menjumpai petugas cleaning service belum menyelesaikan pekerjaannya.

Jika dinalar dengan pikiran sehat dan tanpa embel-embel emosi, sebenarnya hal tersebut wajar, sang pengusaha datang lebih pagi dari biasanya, tentu saja akan menjumpai pemandangan yang berbeda dari kebiasaannya dimana petugas cleaning service belum menyelesaikan pekerjaannya. Justru yang tidak wajar adalah sang pengusaha sendiri, tidak memandang situasi langsung marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya hanya karena apa yang ia lihat tidak sesuai dengan keinginannya dan didorong oleh emosi dan anggapan bahwa dirinya adalah orang yang bisa memerintah apa saja dan mengatakan apa saja pada orang yang dianggap lebih rendah.

Berdasarkan ilustrasi diatas, mari kita coba pikirkan, bagaimana bila situasi kita balik? Kita mencoba berada ada posisi orang lain yang sering termarjinalkan hanya karena profesi mereka tidak tergolong dalam profesi-profesi elit menurut pandangan banyak orang. Kita kenakan sepatu seperti yang dikiaskan dalam pepatah Amerika pada bagian awal dari artikel ini, kita kenakan atribut-atribut yang sering disandang oleh orang tersebut, baik berupa fisik maupun julukan-julukan yang bernada meremehkan dan merendahkan, kemudian perhatikan, sejauh mana kita menjalani posisi orang lain itu dan ukurlah sendiri sampai dimana batas kesanggupan yang kita miliki.

Belakangan ini saya baru saja mencoba berada di posisi seorang sahabat saya yang sering menemani saya ngobrol dikala senggang atau dikala saya sedang merindukan keluarga saya di Jogja. Sahabat saya itu menjalani profesi yang bagi sebagian orang remeh, ya remeh sekali, karena hampir semua orang yang pernah saya lihat berhubungan dengan orang tersebut menggunakan nada yang bagi saya kasar Dialah si pengangkut sampah sekaligus menyapu dan sesekali merapikan pagar tanaman. Pada suatu sore saya sengaja berjalan mendekatinya ketika ia tengah memangkas tanaman pagar agar nampak rapi.

Sekilas dalam pandangan mata saya, pekerjaan memotong dan merapikan tanaman adalah pekerjaan yang sangat mudah, sekedar membuka dan menutup gunting dan diarahkan pada pucuk-pucuk tanaman yang tidak beraturan dan akhirnya terpotong dan tanaman nampak rapi. Saya sangat berminat untuk mencobanya, saya merayu dan mencoba memangkas tanaman, tapi tahukah anda, ternyata itu sangat sulit, setidaknya saya tidak mampu melakukannya dengan rapi, dengan depat dan ternyata kuncinya adalah pada hentakan dan arah guntingan, ini yang tidak saya kuasai.

Sebuah pelajaran berharga waktu itu saya peroleh, ternyata untuk sebuah pekerjaan sepele yang selama ini saya anggap mudah dan enteng hanya karena sedikit kesombongan saya yang menganggap diri saya lebih berpendidikan ternyata tidak dapat saya lakukan dengan baik. Ilmu yang saya peroleh dari pendidikan yang saya jalani dan penguasaan saya untuk bidang tertentu yang saya tekuni, ternyata tidak berlaku untuk pekerjaan memotong dan merapikan tanaman di taman.

Tuhan maha adil, menciptakan manusia yang beraneka ragam dengan kepintaran dan keahlian masing-masing untuk berkontribusi sewajarnya bagi kehidupan ini, tidak perlu mencela. Apabila dibenak muncul hasrat untuk mencela, berarti secara tidak langsung kita mencela Tuhan kita. Berhubung Tuhan menciptakan manusia untuk berkontribusi sewajarnya dalam berbagai sendi kehidupan, berarti kita juga harus bertindak sewajarnya, mengapresiasi apapun profesi orang secara positif. Tanamkan dalam diri bahwa jangan pernah mencela apa yang telah digariskan Tuhan yang berupa profesi orang sebelum mencobanya, karena belum tentu kita mampu menjalani diluar profesi yang kita jalani sekarang. [SBA]